HATI-HATI MEMILIH NASIHAT
AYUB 4–7

 

Tidak semua nasihat itu benar-benar bijak. Hati-hati memilih “hikmat/nasihat” yang Anda izinkan masuk ke hati dan pikiranmu.

 

Mungkin tanpa disadari, Anda pernah menerima nasihat yang justru membuat hati semakin berat dan pergumulan terasa semakin dalam. Ironisnya, nasihat seperti itu sering datang dari orang-orang yang peduli dan memiliki niat baik. Biasanya perkataan itu tidak disampaikan dalam suasana konseling yang serius, melainkan muncul lewat percakapan sehari-hari yang terasa biasa saja. Namun dari situlah cara pandang dan hati seseorang perlahan dapat dibentuk.

 

Anda perlu menyadari bahwa setiap persahabatan sebenarnya adalah tempat saling memberi pengaruh dan nasihat. Ketika hubungan menjadi dekat, Anda mulai membuka cerita hidup, pergumulan, dan isi hati kepada orang lain, lalu mereka ikut memberi pandangan tentang apa yang sedang Anda alami. Karena itu, tidak ada persahabatan yang benar-benar dekat tanpa adanya saling memberi nasihat. Tetapi di sinilah Anda perlu berhikmat: tidak semua nasihat adalah nasihat yang benar di hadapan Tuhan. Niat baik seseorang tidak selalu berarti perkataannya membawa hikmat sejati.

 

Ketika Ayub kehilangan segala sesuatu yang ia miliki, sahabat-sahabatnya datang untuk menghibur dia dan duduk bersama dia dalam dukacita. Elifas orang Teman, Bildad orang Suah, dan Zofar orang Naama datang dengan maksud yang baik. Mereka hadir seperti sahabat sejati pada umumnya. Dan seperti kebanyakan sahabat, mereka pun memiliki banyak pendapat tentang penderitaan yang sedang dialami Ayub.

 

Nasihat mereka berangkat dari satu pertanyaan penting: apakah Ayub benar di hadapan Allah? Namun mereka menarik kesimpulan yang salah. Akibatnya, nasihat mereka menjadi tidak bijaksana, tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, dan akhirnya tidak membawa penghiburan bagi Ayub di tengah penderitaannya yang begitu dalam.

 

Nasihat mereka dirangkum melalui perkataan Elifas dalam Ayub 4:8–9: “Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga. Mereka binasa oleh nafas Allah, dan lenyap oleh hembusan hidung-Nya.” Melalui perkataan itu, Elifas seolah berkata kepada Ayub, “Kalau hidupmu benar, kamu akan diberkati. Kalau hidupmu menderita, berarti kamu pasti berbuat dosa.”

 

Masalahnya, ada dua kesalahan besar dalam nasihat itu. Pertama, dari awal kitab Ayub kita tahu bahwa penderitaan Ayub bukan terjadi karena ia adalah orang jahat. Justru Ayub digambarkan sebagai orang yang hidup benar di hadapan Tuhan. Pergumulan Ayub adalah ujian iman: apakah seseorang akan tetap percaya kepada Allah ketika ia kehilangan semuanya?

 

Kedua, nasihat itu muncul dari pemahaman yang salah tentang karakter Allah. Cara berpikir mereka sangat legalistis dan tidak memberi tempat bagi kasih karunia. Seolah-olah manusia bisa mendapatkan perkenanan Allah melalui usaha dan kebaikannya. Seolah-olah keselamatan dan penerimaan Allah harus “dibayar” dengan hidup yang sempurna. 

 

Padahal, jika manusia bisa memperoleh keselamatan melalui kebenarannya sendiri, maka seluruh karya penebusan Allah di dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, tidak lagi diperlukan. Bahkan jika orang berdosa hanya menerima hukuman tanpa kasih karunia, maka tidak ada harapan bagi kita semua. 

 

Tetapi Injil berkata sebaliknya. Kita semua adalah orang berdosa yang membutuhkan kasih karunia. Dan Yesus datang untuk menanggung kutuk dosa kita, supaya kita tidak lagi menanggungnya sendiri. Karena itu, ketika kita mendengar nasihat, ujilah semuanya dengan Injil. Jangan hanya melihat apakah nasihat itu terdengar masuk akal atau diucapkan dengan tulus. Tanyakan: “Apakah nasihat ini membawa saya semakin mengenal kasih karunia Allah?” “Apakah hikmat ini selaras dengan karakter Tuhan yang dinyatakan dalam Kristus?” Pengharapan terbesar Ayub bukanlah pada dirinya sendiri, melainkan pada anugerah Allah. Dan itu juga menjadi satu-satunya pengharapan kita hari ini.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 1:1-6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 4-7