DISELAMATKAN OLEH PENGORBANAN-NYA
LUKAS 21-22

 

Yesus tidak menggunakan kuasa-Nya untuk melindungi diri-Nya sendiri, dan Ia tidak membiarkan murid-murid-Nya membela-Nya, karena Ia datang untuk menyediakan keselamatan melalui penderitaan dan kematian-Nya.

 

Minggu terakhir kehidupan Yesus sebelum penyaliban memperlihatkan sesuatu yang luar biasa, yaitu bagaimana kuasa Allah dinyatakan melalui kerelaan Kristus untuk tidak membela diri demi menggenapi karya keselamatan-Nya. Yesus adalah Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan. Ia memiliki kuasa yang tidak terbatas dan bala tentara malaikat yang siap melayani-Nya. Namun, Ia justru rela menghadapi penolakan, pengkhianatan, ketidakadilan, penghinaan, bahkan penyiksaan hingga kematian. Sebagai Anak Allah, Yesus memiliki kuasa penuh untuk membela diri-Nya. Namun, Ia memilih untuk tidak menggunakannya. Bahkan, Ia tidak mengizinkan murid-murid-Nya menggunakan kekerasan untuk melindungi-Nya.

 

Coba bayangkan jika kita berada dalam keadaan seperti itu. Bukankah ada batas penderitaan yang sanggup kita tanggung? Pada titik tertentu, kita mungkin akan menyerah, berusaha melarikan diri, atau melawan untuk menyelamatkan diri sendiri. Ketika diperlakukan tidak adil, kita ingin membuktikan bahwa kita benar. Ketika disakiti, kita ingin membalas.

 

Namun, Yesus berbeda. Pada hari-hari terakhir menjelang kematian-Nya, Yesus tidak menjadikan keselamatan diri-Nya sebagai tujuan utama. Bahkan, ketika Ia berdoa agar cawan penderitaan itu berlalu dari-Nya, Ia tetap menyerahkan diri kepada kehendak Bapa. Ia tidak menggunakan kuasa-Nya untuk menghindari jalan penderitaan yang harus ditempuh-Nya.

 

Yesus tidak pernah sekalipun meluapkan kemarahan demi kepentingan diri-Nya sendiri. Ia mengendalikan diri dengan kuasa ilahi demi keselamatan orang-orang yang akan percaya kepada-Nya sepanjang zaman. Yesus memilih untuk tidak membela diri-Nya, apa pun harga yang harus ditanggung-Nya, karena Ia memahami kehendak Bapa-Nya dan kasih-Nya kepada mereka yang terhilang.

 

Dalam pasal 22, Lukas menggambarkan hal ini dengan sangat jelas: “Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi… Waktu Yesus masih berbicara datanglah serombongan orang, sedang murid-Nya yang bernama Yudas, seorang dari kedua belas murid itu, berjalan di depan mereka. Yudas mendekati Yesus untuk mencium-Nya. Maka kata Yesus kepadanya: "Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?" Ketika mereka, yang bersama-sama dengan Yesus, melihat apa yang akan terjadi, berkatalah mereka: "Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?" Dan seorang dari mereka menyerang hamba Imam Besar sehingga putus telinga kanannya. Tetapi Yesus berkata: "Sudahlah itu." Lalu Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya. Maka Yesus berkata kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta tua-tua yang datang untuk menangkap Dia, kata-Nya: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu." (Luk. 22:37, 47–53).

 

Yesus memahami rencana penebusan yang kekal. Ia tahu bahwa salib adalah tujuan yang harus dijalani-Nya, dan Ia bersedia menjalaninya. Di Bukit Zaitun, tempat Ia pergi untuk berdoa, Ia tidak membiarkan murid-murid-Nya mengangkat senjata untuk membela-Nya. Ia menyerahkan diri untuk ditangkap dan menanggung seluruh penderitaan yang mengikutinya. Apa yang terlihat seperti kekalahan sebenarnya merupakan bagian dari kemenangan Kristus atas dosa dan maut.

 

Di sinilah kita melihat keindahan Injil: Dia yang memiliki segala kuasa rela menanggung penderitaan demi menyelamatkan manusia yang tidak berdaya menyelamatkan dirinya sendiri. Ia tetap memegang kendali, menggenapi segala sesuatu yang telah direncanakan dan dijanjikan, semuanya demi keselamatan kita. Artinya, keselamatan kita tidak bergantung pada seberapa kuat kita mempertahankan diri di hadapan Allah, melainkan pada Kristus yang dengan rela menyerahkan diri-Nya bagi kita.

 

Refleksi
Bacalah Roma 3:21-26 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 21-22