DOSA SERING MENYAMAR
YEHEZKIEL 16-17

 

Karena dosa begitu menipu, dosa tidak selalu terlihat sebagai dosa bagi kita.

 

Kita sering kali lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada menyadari dosa yang ada di dalam hati sendiri. Dosa jarang datang dengan wajah yang jelas-jelas jahat. Sering kali dosa justru terlihat masuk akal, dapat dibenarkan, bahkan terasa wajar.

 

Orang yang marah dapat berkata, “Saya tidak sedang marah, saya hanya sedang membela kebenaran.” Orang yang iri dapat berkata, “Saya hanya memiliki standar yang tinggi.” Orang yang mengejar kesenangan dapat berkata, “Ini hanya kesenangan kecil.” Kita pandai mencari alasan agar dosa kita terlihat tidak terlalu buruk. Itulah cara dosa bekerja: dosa menipu kita supaya kita tidak melihat dosa sebagai dosa.

 

Yehezkiel 16 menggambarkan dengan sangat keras bagaimana dosa Israel merupakan pengkhianatan terhadap kasih Allah. Allah mengingatkan bahwa ketika Israel tidak memiliki apa-apa yang membuat mereka layak dikasihi, Allah justru datang kepada mereka. Tuhan berkata: “Maka Aku lalu dari situ dan Kulihat engkau menendang-nendang dengan kakimu sambil belumuran darah dan Aku berkata kepadamu dalam keadaan berlumuran darah itu: Engkau harus hidup… Aku mengadakan perjanjian dengan engkau... dan dengan itu engkau Aku punya.” (Yeh. 16:6, 8).

 

Allah mengasihi mereka ketika mereka tidak layak dikasihi. Ia mengambil mereka, menutupi mereka, mengikat perjanjian dengan mereka, dan menjadikan mereka milik-Nya. Namun, setelah menerima kasih yang begitu besar, Israel berpaling dari Allah. Mereka mengandalkan kecantikan dan keberhasilan mereka, lalu memberikan hati mereka kepada ilah-ilah lain.

 

Di sinilah kita melihat bahwa dosa bukan sekadar melakukan sesuatu yang salah; dosa adalah hati yang lebih mencintai sesuatu daripada Allah. Kita mungkin tidak menyembah patung, tetapi kita dapat menjadikan uang, keberhasilan, pekerjaan, penerimaan orang lain, kenyamanan, pelayanan, atau bahkan diri sendiri sebagai tempat kita mencari keamanan dan kepuasan. Kita mencari dari hal-hal tersebut apa yang seharusnya hanya kita temukan di dalam Allah.

 

Namun, kisah ini tidak berhenti pada ketidaksetiaan manusia. Allah tetap menyatakan kasih dan kesetiaan-Nya. Pengharapan umat Allah tidak terletak pada kemampuan mereka untuk memperbaiki diri, tetapi pada kasih karunia Allah yang setia. Dan kasih karunia itu dinyatakan dengan sempurna di dalam Yesus Kristus. Yesus datang menanggung dosa orang-orang yang tidak setia. Ia hidup dalam ketaatan yang sempurna, mati di kayu salib menggantikan orang berdosa, dan bangkit untuk memberikan kehidupan yang baru. Karena itu, ketika firman Tuhan menyingkapkan dosa kita, kita tidak perlu bersembunyi atau mencari alasan. Sebab kasih karunia tidak memanggil kita untuk menyangkal dosa, tetapi memberi keberanian untuk mengakuinya.

 

Mungkin hari ini ada dosa yang kita beri nama lain: kemarahan yang kita sebut ketegasan, iri hati yang kita sebut keadilan, keserakahan yang kita sebut ambisi, atau kepahitan yang kita anggap sebagai sesuatu yang wajar. Mari bertanya kepada diri sendiri: Di bagian mana saya sedang membenarkan dosa? Apa yang sedang saya cintai, percayai, atau kejar lebih daripada Allah? Ketika kita melihat dosa itu, jangan menjauh dari Kristus. Datanglah kepada Kristus. Sebab pengharapan kita bukan pada kemampuan kita untuk selalu setia, melainkan pada kasih karunia Kristus yang setia kepada kita. Di dalam Dia ada pengampunan, pemulihan, dan kuasa untuk meninggalkan dosa.

 

Dosa memang menipu dan sering menyamar. Tetapi kasih karunia Allah membuka mata kita, membawa kita kepada pertobatan, dan mengarahkan kita kembali kepada Kristus.

 

Refleksi
Bacalah Ibrani 12:1-2 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 16-17