TERANG SETELAH KEGELAPAN
2 RAJA-RAJA 23–25

 

Seberapa pun gelap dan rusaknya keadaan rohani di sekitar Anda, jangan pernah berhenti berdoa untuk kebangunan rohani di sana.

 

Ketika Anda hampir ingin berhenti membaca Perjanjian Lama karena terasa begitu gelap dan mengecewakan, tiba-tiba dari kegelapan itu muncul raja muda, Yosia. Alih-alih melihat lagi penyembahan berhala, pembunuhan dan pengorbanan anak, pencemaran rumah Tuhan, atau praktik okultisme, kita justru melihat suatu kebangunan rohani yang nyata. Di tengah kegelapan, terang itu bersinar melalui komitmen hidup seorang raja muda yang takut akan Tuhan.

 

Salah satu hal pertama yang dilakukan Yosia adalah memimpin umat Yehuda dalam suatu ibadah pembaruan. Ia memimpin bangsa itu dalam upacara pembaruan perjanjian di mana mereka menyatakan kembali kesetiaan mereka kepada Tuhan. Setelah itu, Yosia memimpin umatnya untuk menghancurkan tempat-tempat penyembahan berhala dan segala praktiknya. Dari kegelapan rohani yang begitu dalam, muncullah momen kebangunan yang indah: hukum Tuhan kembali ditaati dan perjanjian-Nya diperbarui.

 

Mungkin sebelumnya tidak terlihat bahwa inilah yang akan terjadi dalam kisah umat Israel. Memang, di kemudian hari, Allah akan memakai Babel untuk menghajar dan memurnikan umat-Nya serta memanggil mereka kembali kepada-Nya. Namun keindahan dari momen kebangunan ini tidak boleh diabaikan.

 

Ada sebuah frasa dalam bahasa Latin yang dikenal di masa Reformasi Protestan: post tenebras lux — “sesudah kegelapan, terang.” Pada waktu itu, kegelapan rohani menyelimuti Eropa, dan terang Injil tampak seperti nyala kecil yang hampir padam. Namun, dari kegelapan itu Allah membangkitkan tokoh-tokoh seperti Martin Luther, John Calvin, dan banyak lainnya. Terang Injil kembali menyala dengan kuat, menyebar ke seluruh dunia, dan terus bersinar hingga hari ini.

 

Di antara masa “sudah” dan “belum”, harapan post tenebras lux selalu menjadi pengharapan umat Allah. Harapan ini berakar pada kebaikan, kekudusan, kuasa, janji, dan anugerah Allah. Pengharapan ini berarti kita percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan anugerah-Nya gagal, tidak akan membiarkan rencana-Nya lenyap, dan akan menepati setiap janji-Nya. 

 

Kelahiran Yesus adalah momen post tenebras lux yang terbesar. Ia datang ke dalam dunia yang gelap sebagai Terang yang bercahaya di dalam kegelapan (Yoh. 1:5). Yesus adalah Terang yang kekal, Terang yang tidak akan pernah dapat dipadamkan oleh siapa pun. Ia menerangi hati setiap orang yang percaya kepada-Nya.

 

Mungkin dunia terasa gelap bagi Anda hari ini, tetapi akan datang lagi momen post tenebras lux yang lain, ketika Sang Terang datang menjemput umat-Nya dan membawa mereka masuk ke dalam kerajaan terang-Nya yang kekal, penuh kehidupan, damai sejahtera, dan kebenaran. Kegelapan tidak akan menang atas terang. Karena itu, dengan pengharapan yang sama seperti para Reformator, kita berkata: post tenebras lux, sesudah kegelapan, terang.

 

Refleksi
Bacalah Ratapan 3:22–33 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 23-25