KUDUSKAN HARI SABAT, BAGIAN SATU

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. Keluaran 20:8

 

Sepanjang sejarah, ada orang Kristen yang mungkin tanpa sadar, menganggap Sepuluh Perintah Allah sebenarnya hanya Sembilan. Perintah keempat tentang menguduskan hari Sabat sering kali diabaikan, seolah-olah tidak sepenting perintah lainnya. Padahal, perintah ini tetap relevan bagi kita hingga saat ini.

Mengapa perintah ini sulit dipatuhi? Beberapa orang berpikir bahwa aturan dan hukumannya hanya berlaku di Perjanjian Lama, sehingga tidak lagi relevan. Namun, kita tidak bersikap seperti itu terhadap perintah lainnya. Ada juga yang salah paham terhadap perkataan Yesus dalam Matius 12:8, di mana Ia menyebut diri-Nya sebagai "Tuhan atas hari Sabat." Mereka mengira Yesus menghapus perintah ini, padahal yang Ia kritik adalah aturan ketat yang dibuat oleh orang Farisi, bukan Sabat itu sendiri.

Sebenarnya, alasan utama kita sulit menerima perintah ini adalah karena kita tidak suka implikasinya. Hari Sabat menuntut kita untuk berhenti dari kesibukan, mengubah rutinitas, dan mengutamakan Tuhan—hal yang mungkin terasa mengganggu bagi banyak orang. Akibatnya, kita memperlakukan perintah ini seolah-olah berbeda dari perintah lainnya.

Namun, jika kita ingin menghormati Allah, kita harus memahami bahwa hari Sabat memang dikhususkan oleh-Nya sejak penciptaan. Allah beristirahat pada hari ketujuh dan menguduskannya. Dalam Perjanjian Baru, gereja mula-mula merayakan hari Tuhan pada hari pertama dalam seminggu, menandai kebangkitan Yesus. Ini menunjukkan bahwa hari Sabat bukan hanya soal aturan, tetapi tentang mengingat karya penciptaan dan penebusan Allah.

Jika kita menyadari hal ini, kita akan melihat Sabat bukan sebagai kewajiban yang harus "diselesaikan" sebelum kembali ke kesibukan kita, tetapi sebagai hari yang benar-benar dikhususkan bagi Tuhan. Jika kita hanya menganggap ibadah sebagai rutinitas sebelum menjalani sisa hari Minggu seperti biasa, berarti kita belum benar-benar menghormati Sabat.

Sabat seharusnya menjadi hari yang kita nikmati—bukan sebagai beban, tetapi sebagai anugerah. Hari di mana kita bebas dari tuntutan pekerjaan dan komitmen lain, sehingga kita bisa menikmati hadirat Tuhan, merenungkan firman-Nya, dan bersekutu dengan sesama orang percaya. Jika kita memandangnya dengan cara ini, kita tidak hanya menaati perintah Allah, tetapi juga menemukan sukacita di dalamnya.

Jadi, tanyakan pada diri Anda: Apa yang selama ini menghalangi Anda untuk menghormati Hari Tuhan? Perhatikan kebiasaan Anda dan mulailah menguduskan hari Sabat. Mulai Minggu depan, jadikanlah prioritas utama Anda bukan sekadar menjalani hari itu dengan nyaman, tetapi benar-benar menggunakannya untuk menghormati Allah.

 

Refleksi

Bacalah Ibrani 4:1-11 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut

  • Pola pikir apa yang perlu saya ubah?
  • Apa yang perlu dikalibrasi dalam hati saya?
  • Apa yang bisa saya terapkan hari ini? 

Bacaan Alkitab setahun Keluaran 29–30Yakobus 1

Truth For Life – Alistair Beg