SESUATU MENGGANTIKAN POSISI ALLAH
Ulangan 3–4

 

Dosa pada dasarnya adalah penyembahan berhala. Dosa selalu menempatkan sesuatu menggantikan posisi Allah sebagai penguasa hati kita.

 

Di dunia yang telah dirusak oleh dosa ini, yang tidak lagi berjalan sesuai dengan maksud semula dari Allah, penyembahan berhala adalah bahaya yang sangat nyata dan selalu ada. Penyembahan berhala bukan hanya soal budaya atau pengaruh luar di sekitar kita, tetapi terutama soal hati. Selama dosa masih ada dalam diri dan di sekitar kita, hati kita akan mudah menyimpang. Penyembahan berhala terjadi ketika kita menganggap sesuatu selain Allah sebagai sumber dari apa yang sebenarnya hanya dapat diberikan oleh Allah. Akibatnya, kita menyerahkan pikiran, keinginan, pilihan, dan tindakan kita kepada hal itu. Daftar hal-hal yang dapat menggantikan posisi Allah dalam hati kita tidak ada habisnya.

 

Karena itu, ketika bangsa Israel akan memasuki tanah perjanjian, Musa memperingatkan mereka tentang bahaya ini: “Hati-hatilah sekali, sebab kamu tidak melihat suatu rupa pada hari TUHAN berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api, supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala, dalam bentuk apa pun: menyerupai laki-laki atau perempuan, menyerupai binatang apa pun yang ada di bumi, menyerupai burung bersayap apa pun yang terbang di udara, menyerupai apa pun yang merayap di atas tanah, menyerupai ikan apa pun yang ada di dalam air di bawah bumi. Dan juga supaya jangan engkau mengarahkan pandanganmu ke langit, dan melihat matahari, bulan, dan bintang-bintang, seluruh bala tentara langit, lalu engkau tergoda untuk sujud menyembah dan beribadah kepadanya … Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan perjanjian TUHAN, Allahmu, yang telah diikat-Nya dengan kamu, dan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apa pun yang telah dilarang TUHAN, Allahmu, kepadamu. Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu.” (Ulangan 4:15–19, 23–24).

 

Bahaya menyerahkan hati kita kepada sesuatu selain Tuhan sangat besar—baik bagi Israel dahulu maupun bagi kita hari ini. Kiranya kita diingatkan dan dihiburkan oleh kecemburuan kudus Allah, yang tidak mau membagi hati kita dengan siapa pun atau apa pun.

 

Dalam Injil, kita melihat kasih karunia Allah dinyatakan sepenuhnya di dalam Yesus Kristus. Yesus datang untuk membebaskan kita dari segala bentuk berhala, supaya kita kembali hidup dalam kemerdekaan dan sukacita sejati. Di dalam Dia, kita tidak lagi mencari makna, keamanan, dan harapan dari hal-hal fana, melainkan dari Allah yang hidup. Kiranya kita terus mengingat: Yesus telah membebaskan kita dari berhala, agar kita kembali hidup dalam kebebasan dan menikmati berkat sejati dari apa yang telah Ia lakukan dan yang akan Ia sediakan bagi kita.

 

Refleksi
Bacalah Yeremia 2:26–28 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 3-4