KETIKA KITA MERASA ALLAH TIDAK CUKUP
Ulangan 1–2

 

Anda berada dalam bahaya rohani ketika Anda mulai meyakinkan diri bahwa Allah tidak cukup bagimu.

 

Setelah Allah menetapkan kasih-Nya atas mereka dan menjadikan mereka milik-Nya sendiri…
Setelah Ia menyatakan kuasa-Nya dengan membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir…
Setelah Ia secara ajaib membelah Laut Teberau dan mengalahkan Mesir…
Setelah Ia memberikan hukum-Nya dengan dahsyat di Gunung Sinai…
Setelah Ia menyatakan kemuliaan-Nya melalui awan yang turun atas Kemah Suci…
Setelah Ia menuntun umat-Nya dengan tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari…
Setelah Ia menyediakan manna setiap hari untuk memelihara kehidupan mereka…

 

Setelah semua penyataan kuasa Allah yang begitu besar, bahwa Ia menyertai Israel untuk menuntun, melindungi, dan memelihara mereka, sekarang bangsa Israel hanya dipisahkan oleh sebuah sungai dari tanah perjanjian. Namun mereka menolak untuk maju karena takut dan adanya bangsa-bangsa yang menentang mereka.

 

Penolakan ini bukan sekadar pertimbangan militer berdasarkan apa yang mereka lihat. Penolakan Israel adalah masalah rohani yang dalam. Setelah menyaksikan semua perbuatan Allah, mereka memandang negeri yang dijanjikan dan menyimpulkan bahwa Allah tidak cukup dan tidak sanggup.

 

Penolakan mereka untuk masuk ke tanah perjanjian dan berperang dalam kuasa Tuhan berakar pada ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan adalah bentuk pemberontakan yang paling mendasar. Ketidakpercayaan memberi alasan bagi seseorang untuk tidak memegang janji Allah dan tidak tunduk pada perintah-Nya. Ketidakpercayaan bisa diartikan menuduh Allah, seolah-olah Ia tidak cukup dan belum melakukan cukup bagi umat-Nya.

 

Perhatikan dengan saksama perkataan Musa dalam khotbah pertamanya di kitab Ulangan: “TUHAN, Allahmu, yang berjalan di depanmu, Dialah yang akan berperang untukmu, sama seperti yang dilakukan-Nya bagimu di Mesir, di depan matamu, dan di padang gurun, di mana engkau melihat bahwa TUHAN, Allahmu, menggendong engkau, seperti seseorang menggendong anaknya, sepanjang perjalanan yang kamu lakukan sampai kamu tiba di tempat ini. Tetapi sekalipun demikian, kamu tidak percaya kepada TUHAN, Allahmu, yang berjalan di depanmu di jalan untuk mencari tempat bagimu untuk berkemah, dalam api pada waktu malam dan dalam awan pada waktu siang, untuk menunjukkan kepadamu jalan yang harus kamu tempuh.” (Ul. 1:30–33).

 

Renungkanlah perkataan ini: “TUHAN, Allahmu, menggendong engkau, seperti seseorang menggendong anaknya.” Demikianlah setia, lembut, dan sempurnanya tuntunan, pemeliharaan, dan perlindungan Tuhan atas umat-Nya, Israel. Namun Musa berkata bahwa, sekalipun Allah telah melakukan semua itu, Israel tetap menolak untuk percaya bahwa Allah akan menyatakan kuasa-Nya untuk memberikan tanah yang telah dijanjikan-Nya.

 

Sang Juruselamat Israel adalah Juruselamat kita juga. Melalui inkarnasi-Nya, pelayanan-Nya yang penuh kuasa, hidup-Nya yang benar, kematian-Nya sebagai pengganti kita, kebangkitan-Nya yang penuh kemenangan, kenaikan-Nya ke surga, dan karunia Roh-Nya yang diam di dalam kita, Ia telah menunjukkan bahwa Ia akan melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk menggenapi semua janji-Nya bagi kita. Namun, di tengah semua anugerah penebusan ini, satu pertanyaan bersuara kepada hati kita: “Apakah kita akan meragukan bahwa Juruselamat kita cukup?”

 

Hari ini, saat Anda menghadapi tantangan, tekanan, dan pencobaan, akankah Anda menyimpulkan bahwa Yesus tidak cukup? Atau akankah Anda kembali kepada Injil dan berkata dengan iman: Yesus cukup. Anugerah-Nya cukup. Kuasa-Nya cukup. Kasih-Nya cukup. Dan janji-Nya pasti digenapi.

 

Refleksi
Bacalah 2 Korintus 12:9–10 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 1-2