HIKMAT ALLAH TIDAK PERNAH GAGAL
AYUB 8–10

 

Tidak banyak hal yang lebih menghancurkan kehidupan rohani selain menganggap diri lebih bijak dan lebih benar daripada Allah, walaupun hanya sesaat. 

 

Mungkin sulit untuk mengakuinya, tetapi ada saat-saat ketika kita tergoda untuk merasa bahwa kita lebih tahu daripada Tuhan. Setiap kali kita melanggar batas moral yang sudah Allah tetapkan, sebenarnya kita sedang bertindak seolah-olah kita lebih bijaksana daripada Dia. Setiap kali kita meragukan hikmat firman-Nya, kita sedang meyakinkan diri bahwa pemikiran kita lebih benar. Setiap kali kita marah kepada Tuhan karena apa yang Ia izinkan terjadi dalam hidup kita, kita sedang bertindak seakan-akan kita tahu apa yang lebih baik. Dan setiap kali kita memilih mengikuti keinginan sendiri daripada menaati jalan yang Tuhan katakan baik, kita sedang menempatkan hikmat kita di atas hikmat-Nya.

 

Penting untuk selalu mengingat bahwa Allah, dalam kemuliaan-Nya yang tidak terbatas, adalah sumber dari segala hikmat, kebaikan, dan kebenaran. Jalan-Nya mungkin membuat Anda bingung. Apa yang Ia izinkan mungkin sulit dipahami. Bahkan terkadang hati Anda bisa terguncang karena pekerjaan-Nya. Tetapi Allah tidak pernah salah. Apa yang Ia katakan dan lakukan selalu benar. Ia mengetahui segala sesuatu dengan sempurna. Karena itu, merupakan kesombongan rohani jika manusia berpikir bahwa dirinya dapat menghakimi Allah atau merasa lebih benar daripada Dia.

 

Di tengah penderitaannya yang begitu berat dan membingungkan, Ayub memahami kebenaran ini tentang Allah: "Sungguh, aku tahu, bahwa demikianlah halnya, masakan manusia benar di hadapan Allah? Jikalau ia ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali ia tidak dapat membantah-Nya. Allah itu bijak dan kuat, siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat? Dialah yang memindahkan gunung-gunung dengan tidak diketahui orang, yang membongkar-bangkirkannya dalam murka-Nya; yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang; yang memberi perintah kepada matahari, sehingga tidak terbit, dan mengurung bintang-bintang dengan meterai; yang seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut; yang menjadikan bintang Biduk, bintang Belantik, bintang Kartika, dan gugusan-gugusan bintang Ruang Selatan; yang melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak terduga, dan keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang banyaknya. Apabila Ia melewati aku, aku tidak melihat-Nya, dan bila Ia lalu, aku tidak mengetahui. Apabila Ia merampas, siapa akan menghalangi-Nya? Siapa akan menegur-Nya: Apa yang Kaulakukan?” (Ay. 9:2–12).

 

Ketika Ayub melihat kemuliaan hikmat dan kuasa Allah, ia sadar bahwa sekalipun penderitaannya sangat membingungkan, ia tidak dapat mempersalahkan Tuhan. Ayub memahami bahwa Allah tetap bijaksana dan berkuasa, bahkan ketika jalan-Nya tidak dapat dimengerti manusia. Dia belajar bahwa keterbatasan manusia tidak membatalkan kebaikan Tuhan.

 

Demikian juga dengan Anda. Akan ada masa ketika Anda tidak memahami apa yang Tuhan sedang kerjakan dalam hidup Anda atau mengapa Ia mengizinkan sesuatu terjadi. Ada doa yang belum dijawab, ada jalan yang terasa gelap, dan ada penderitaan yang membingungkan. Namun di tengah semua itu, Anda dipanggil untuk tetap percaya kepada hikmat, kebaikan, dan kuasa Allah.

 

Injil mengingatkan kita bahwa Allah yang tidak kita pahami sepenuhnya adalah Allah yang telah menyatakan kasih-Nya dengan sempurna melalui Yesus Kristus. Di kayu salib, Allah menyatakan keselamatan terbesar bagi kita. Apa yang tampak seperti kekacauan ternyata adalah jalan penebusan. Apa yang terlihat seperti kelemahan ternyata adalah kemenangan. Salib menjadi bukti bahwa hikmat Allah jauh melampaui pengertian manusia.

 

Betapa indahnya bahwa Allah bukan hanya Allah yang penuh hikmat dan kuasa, tetapi juga penuh kasih karunia. Ketika pengertian Anda tidak sanggup memahami jalan-Nya, berserulah kepada-Nya meminta kasih karunia, bukan hanya supaya Anda mampu bertahan, tetapi juga supaya Anda dapat tetap tenang dan beristirahat dalam pemerintahan-Nya. Percayalah bahwa hikmat Allah jauh lebih tinggi daripada hikmat manusia, dan Ia selalu melakukan apa yang benar. Iman bukan berarti kita mengerti semuanya, tetapi percaya bahwa Allah selalu benar, bahkan ketika kita tidak memahami apa yang sedang Ia kerjakan. Allah tidak pernah kehilangan kendali. Hikmat-Nya tidak pernah salah. Dan kasih-Nya sudah dibuktikan melalui Kristus.

 

Refleksi
Bacalah Yesaya 55:6–9 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 8-10