ANDA AKAN KELUAR DARI "KOTAK ITU"
Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. — Yohanes 11:25
Selama bertahun-tahun dalam pelayanannya, seorang pendeta telah memimpin begitu banyak ibadah pemakaman. Namun ada satu pengalaman yang tidak pernah ia lupakan karena pelajaran berharga yang ia dapatkan darinya. Suatu hari ketika tiba di rumah duka, ia diminta menunggu di sebuah ruang kecil. Ia penasaran sambil memperhatikan sekeliling ruangan dan baru menyadari bahwa ia sedang duduk di samping peti mati berukuran mini — peti yang pada bagian ujungnya dipotong sehingga orang dapat melihat bagian dalamnya.
Saat ia duduk di sana, ia mulai memikirkan bukan hanya tentang melihat ke dalam peti itu, tetapi membayangkan bagaimana rasanya jika berada di dalam peti tersebut. Perasaan itu membuat dirinya tidak nyaman. Ia bergumam dalam hati, “Aku seorang Kristen. Aku percaya kepada kebangkitan tubuh. Aku percaya bahwa suatu hari aku akan mati dan pergi ke surga.” Namun meskipun ia percaya akan hal itu, saat memandang peti mati tersebut, ia tetap berkata dalam hati, “Aku tidak ingin masuk ke dalam kotak itu!” Mungkin kita pernah memikirkan hal yang serupa.
Pertanyaan lain muncul, "Apa yang terlintas di benak orang yang tidak percaya ketika dia berpikir tentang kematian?"
Pada akhir tahun 1960-an, pemerintah Inggris membuat garis dan tanda khusus di jalan—terutama di persimpangan yang ramai. Di tengah kotak garis itu tertulis: “Jangan masuk ke dalam kotak ini kecuali jalurnya jelas.” Artinya, pengendara tidak boleh masuk ke persimpangan itu kalau mereka tidak yakin bisa keluar dengan aman, supaya tidak terjadi kemacetan. Namun, kalau kita kembali kepada kisah di rumah duka itu, betapa tepatnya peringatan tanda itu ketika kita mempertimbangkan bahwa kita semua akan mati dan terbaring di dalam peti mati. Tubuh kita akan masuk ke dalam ‘kotak’ itu, tetapi jiwa kita tidak akan tinggal di sana. Karena itu, jalan keluarnya harus jelas — kita harus tahu ke mana jiwa kita pergi saat kita mati.
Semua orang tahu kematian itu pasti datang. Statistiknya jelas: satu dari satu orang akan meninggal. Hidup manusia pasti menuju pada akhir. Namun Allah Anak, yang telah ada “sebelum dunia dijadikan” (1Pet. 1:20), datang ke dunia ini supaya kita mengenal Juruselamat, Sahabat, dan Tuhan—supaya kita memiliki pengharapan kepada kehidupan kekal yang begitu kita rindukan.
Mungkin Anda sedang mempersiapkan banyak hal dalam hidup ini—tabungan, rencana masa depan, karier, kesehatan—tetapi Anda sering tidak mempersiapkan satu hal terpenting: keluar dari “kotak” itu. Suatu hari Anda akan berdiri di hadapan Allah. Kita akan memberi pertanggungjawaban atas hidup kita. Tetapi kabar Injil adalah ini: kita tidak perlu takut akan hari itu jika kita percaya kepada Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat. Kemenangan atas kematian bukan berasal dari kekuatan kita, tetapi dari Dia yang rela mati dan bangkit untuk menebus kita. Jika Anda percaya kepada-Nya, Kristus sendiri yang akan membawa Anda keluar dari kotak itu—bukan karena jasamu, tetapi karena kasih karunia-Nya.
Pada hari itu, sekalipun tubuhmu diam dalam peti, Anda akan tetap hidup. Anda akan mendengar panggilan Juruselamat dan bangkit dalam tubuh kebangkitan—sebuah tubuh yang tidak akan pernah melihat kematian lagi. Maka, seperti tanda jalan itu berkata: “Jangan masuk ke kotak itu kecuali jalurnya jelas.” Bagi orang percaya, jalan keluarnya sudah jelas: ditandai oleh darah Kristus dan menuju rumah kekal di surga.
Tujuan akhirnya pasti. Kristus menantimu. Jangan takut.
Refleksi
Bacalah Yohanes 11:17−44 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 19-20; Lukas 8:26-56