KEMENANGAN MILIK TUHAN
Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku! Ya, Engkau telah memukul rahang semua musuhku, dan mematahkan gigi orang-orang fasik. Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu! - Mazmur 3:8−9
Apakah kesulitan mendorong kita mendekat kepada Tuhan atau justru menjauh dari Tuhan?
Dalam Mazmur 3, Raja Daud menghadapi ujian yang sangat berat: pemberontakan anaknya sendiri, Absalom. Ia harus melarikan diri dari istananya dan banyak orang yang dulu mengaku sebagai sahabat kini berbalik melawannya.
Apa yang Daud lakukan? Ia membawa pergumulannya langsung kepada Tuhan. Ia menyadari—dan kita pun perlu rendah hati untuk mengakuinya—bahwa setiap kemenangan sejati, perubahan hidup yang sejati, dan jalan keluar yang sejati hanya berasal dari Tuhan.
Siapa yang dapat melepaskan kita dari belenggu dosa? Siapa yang dapat memulihkan hati yang terluka? Siapa yang dapat mengangkat beban yang menekan hidup kita? Hanya Tuhan. Tidak ada pertolongan yang lebih besar daripada pertolongan-Nya.
Bahkan ketika musuh-musuh Daud mengelilinginya, dia tidak mencoba untuk membalas dengan tangannya sendiri. Ia tahu bahwa kemenangan sejati bukan ditentukan oleh kekuatan manusia, melainkan oleh Tuhan. Jadi Daud berseru, "Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku!" karena dia tahu bahwa "Dari TUHAN datang pertolongan."
Perhatikan juga, bahwa Daud memandang lebih dari sekadar pembebasan untuk dirinya sendiri. Ia berdoa, “Berkat-Mu atas umat-Mu.” Ujian kehidupan sering kali membuat kita hanya fokus pada diri sendiri—menarik diri dari Tuhan dan dari sesama. Sangat mudah hanya untuk berdoa untuk diri sendiri ketika kita sedang berjuang. Tetapi Daud mengingatkan bahwa bahkan ketika kita berada di lembah hidup, kita tetap dipanggil untuk mengingat saudara-saudari kita dalam doa dan kasih.
Keselamatan Tuhan bukan hanya untuk kita sendiri, melainkan juga bagi orang-orang di sekitar kita—untuk rekan kerja, tetangga, anggota gereja, orang asing yang kita temui setiap hari. Setiap jiwa membutuhkan kasih dan pertolongan Tuhan sama besarnya dengan kita.
Jika kita ingin mengalami kemenangan dalam hidup, kita perlu seperti Daud: mengakui bahwa pertolongan kita hanya berasal dari Tuhan. Dan bila kita ingin menjadi alat Tuhan, kita harus membuka mata untuk melihat kebutuhan orang lain—mendoakan, mendukung, dan menunjukkan kasih Kristus. Kemenangan sejati bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah semata. Kristus adalah satu-satunya Juruselamat—Dia yang bangkit untuk menyelamatkan kita dan memberikan berkat keselamatan kepada umat-Nya.
Di lembah sekalipun maupun di atas gunung sekalipun—kemenangan tetap milik Tuhan. Dan oleh kasih karunia-Nya, kemenangan itu diberikan kepada kita yang percaya kepada-Nya.
Refleksi
Bacalah 1 Tawarikh 29:10−14 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 17-18; Lukas 8:1-25