IA DITOLAK AGAR KITA DITERIMA
LUKAS 23-24

 

Yesus rela menanggung ketidakadilan, penghinaan, dan penolakan supaya kita dapat mengalami penerimaan yang kekal di hadapan Allah.

 

Allah menciptakan kita sebagai makhluk sosial. Kita diciptakan untuk hidup dalam kebersamaan, mengasihi, dan dikasihi. Jauh di dalam hati, setiap kita memiliki kerinduan untuk diterima. Tidak seorang pun senang mengalami penolakan. Tidak ada yang merasa nyaman ketika dihina, dipermalukan, atau diperlakukan seolah-olah dirinya tidak berharga.

 

Dalam Yesaya 53, telah dinubuatkan bahwa Yesus akan dihina dan ditolak oleh manusia. Karena Yesus sepenuhnya manusia, dengan perasaan dan keinginan seperti yang kita miliki, penolakan itu tentu menyakitkan bagi-Nya, sebagaimana kita juga merasakan sakit ketika ditolak. Namun, Yesus bersedia mengalaminya. Ia tahu tujuan kedatangan-Nya, dan Ia bersedia menderita agar dosa dikalahkan dan kita diperdamaikan dengan Allah untuk selama-lamanya.

 

Lukas 23:18–25 mencatat salah satu peristiwa penolakan dalam kehidupan Yesus: “Tetapi mereka berteriak bersama-sama: "Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami!" Barabas ini dimasukkan ke dalam penjara berhubung dengan suatu pemberontakan yang telah terjadi di dalam kota dan karena pembunuhan. Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin melepaskan Yesus. Tetapi mereka berteriak membalasnya, katanya: "Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!" Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka: "Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahanpun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya." Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhirnya mereka menang dengan teriak mereka. Lalu Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan. Dan ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, tetapi Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.”

 

Sungguh, peristiwa ini begitu memilukan dan sulit untuk dipahami. Yesus yang sempurna dan sama sekali tidak bersalah sedang berada di hadapan Pilatus, seorang penguasa yang bahkan tidak menemukan kesalahan apa pun pada diri-Nya. Namun, orang banyak justru menuntut agar Yesus dijatuhi hukuman mati, sementara Barabas, seorang pemberontak dan pembunuh, dibebaskan. Renungkanlah sejenak. Orang banyak lebih memilih membebaskan seorang penjahat daripada menerima Anak Allah yang sempurna dan tidak berdosa.

 

Namun, penolakan yang dialami Yesus di hadapan orang banyak bukanlah tanda bahwa rencana Allah telah gagal. Sebaliknya, semua ini terjadi dalam penggenapan rencana keselamatan Allah yang telah dinubuatkan jauh sebelumnya. Penolakan tersebut menjadi bagian dari jalan penderitaan yang membawa Yesus menuju salib, tempat Ia menyerahkan nyawa-Nya sebagai pengganti orang-orang berdosa.

 

Inilah kabar baik Injil bagi kita hari ini: Penerimaan Allah tidak bergantung pada seberapa baik kita berusaha membuktikan diri di hadapan-Nya. Kita diterima bukan karena keberhasilan atau kebaikan kita sendiri, melainkan karena Kristus telah menanggung hukuman dosa kita dan mendamaikan kita dengan Allah.

 

Di salib, Kristus rela ditolak oleh manusia dan menanggung hukuman dosa kita, supaya di dalam Dia, kita diterima oleh Allah untuk selama-lamanya. Karena itu, sekalipun dunia menolak kita, sekalipun orang lain memandang rendah atau menganggap kita tidak berharga, kita yang percaya kepada Kristus memiliki pengharapan yang tidak dapat direnggut oleh penilaian manusia.

 

Refleksi
Bacalah 1 Petrus 2:22-25 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 23-24