ANUGERAH DAN PERTOBATAN
YEHEZKIEL 18–20

 

Meskipun Allah memiliki kebencian yang kudus terhadap dosa, Ia tidak berkenan atas kematian orang fasik.

 

Yehezkiel 18 menunjukkan kepada kita dua hal yang sangat kita butuhkan: “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” (Yeh. 18:20, 23).

 

Pertama, kita membutuhkan dunia yang diperintah oleh Pribadi yang sempurna dalam kekudusan-Nya. Karena Allah itu kudus, Ia membenci dosa dan segala kerusakan yang ditimbulkannya. Allah tidak pernah berkata bahwa dosa adalah sesuatu yang tidak masalah atau dapat dianggap sepele. Dosa memiliki akibat, dan akibat akhirnya adalah kematian.

 

Tanpa pemerintahan Allah yang kudus, tidak akan ada keadilan, keamanan, atau kedamaian yang sejati. Dunia akan dipenuhi kekacauan moral. Karena itu, kebencian Allah terhadap dosa sebenarnya adalah pengharapan bagi kita.

 

Kebencian Allah terhadap dosa inilah yang membawa Yesus ke kayu salib. Karena dosa harus dihukum, Yesus mengambil dosa kita ke atas diri-Nya dan menanggung hukuman yang seharusnya kita terima. Yesus menanggung murka Allah terhadap dosa menggantikan kita.

 

Tetapi ada hal kedua yang juga sangat kita butuhkan. Kita membutuhkan dunia ini diperintah oleh Allah yang penuh dengan kasih karunia. Jika Allah hanya membenci dosa dan menghukumnya, kita semua tidak akan memiliki pengharapan. Namun, murka Allah terhadap dosa tidak berarti bahwa Ia tidak mengasihi orang berdosa. Allah berkata bahwa Ia tidak berkenan atas kematian orang fasik. Yang berkenan kepada-Nya adalah ketika orang berdosa berbalik dari jalannya dan hidup (Yeh. 18:23).

 

Kasih karunia inilah yang juga membawa Yesus ke kayu salib. Di dalam Yesus, Allah menyediakan jalan bagi orang berdosa untuk diselamatkan, diampuni, dan diubahkan, sehingga kita dapat meninggalkan jalan dosa dan hidup bagi-Nya.

 

Kita membutuhkan kedua hal ini: Allah yang membenci dosa dan Allah yang penuh kasih karunia. Tanpa kekudusan-Nya, tidak akan ada keadilan. Tanpa kasih karunia-Nya, tidak akan ada pengharapan. Apa yang telah dirusak oleh dosa tidak akan pernah dapat dipulihkan. Namun melalui kehidupan Yesus yang sempurna, kematian-Nya bagi kita, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya, Allah dapat mengampuni dan membenarkan kita tanpa mengabaikan kekudusan-Nya.

 

Di kayu salib Yesus Kristus, kita melihat dua hal ini bertemu: murka Allah terhadap dosa dan kasih karunia-Nya bagi orang berdosa. Di sanalah kita menemukan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk menjadi seperti yang Allah kehendaki dan hidup sesuai dengan rancangan-Nya. Allah membenci dosa, dan karena itu Kristus rela mati. Allah mengasihi orang berdosa, dan karena itu Kristus diberikan bagi kita. 

 

Jadi, bersyukurlah karena Allah membenci dosa. Kebencian-Nya terhadap dosa menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang kudus dan adil. Tetapi pada saat yang sama, bersukacitalah karena kasih karunia-Nya menyediakan pengampunan bagi kita. Mungkin hari ini kita merasa terlalu berdosa untuk kembali kepada Allah. Mungkin ada dosa yang terus berulang sehingga kita merasa tidak layak datang kepada-Nya. Tetapi perkataan Tuhan tetap berlaku: “Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” Datanglah kepada-Nya, dan bertobatlah. 

 

Refleksi
Bacalah Efesus 4:17–24 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. 3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 18-20