29 APRIL 2026 - HARAPAN YANG TEGUH
1 TAWARIKH 1–4

 

Penting untuk diingat bahwa pengharapan kita, baik dalam hidup maupun dalam kematian, bukan terletak pada semangat kita bagi Allah, melainkan pada kesungguhan Allah sendiri untuk menggenapi setiap janji penebusan-Nya.

 

Kita memang dipanggil untuk hidup sungguh-sungguh bagi Tuhan. Kita harus berusaha menaati setiap perintah-Nya, menerapkan hikmat firman-Nya dalam setiap aspek kehidupan, dan terus belajar mengenal firman-Nya. Kita dipanggil untuk memahami kebenaran firman Tuhan dan menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga dipanggil menggunakan setiap berkat yang Tuhan percayakan untuk mendukung pekerjaan Kerajaan-Nya dan menolong sesama. Kita dipanggil untuk memberitakan Injil ketika Ia memberi kesempatan, membangun kehidupan keluarga yang dibentuk oleh Injil, serta memelihara kehidupan doa dan penyembahan yang hidup. Kita diajak belajar bersyukur setiap hari, menolak bersungut-sungut bahkan di tengah kesulitan, dan menjalani semua itu dengan sukacita.

 

Namun, di tengah semua itu, kita perlu menyadari satu hal yang sangat penting: kesungguhan dan kedisiplinan kita bagi Tuhan bukanlah dasar pengharapan kita. Pengharapan yang sejati dan tidak tergoyahkan hanya ditemukan dalam kesungguhan Allah bagi kemuliaan-Nya dan dalam rencana penebusan yang telah Ia tetapkan sejak sebelum dunia dijadikan. Jika kita dapat melakukan semua hal yang baik itu, itu pun hanya karena anugerah Allah yang telah lebih dahulu menyelamatkan dan memampukan kita. Kita dapat setia karena Allah terlebih dahulu setia. Setiap kerinduan kita untuk mengasihi, melayani, dan menyembah Dia adalah buah dari anugerah-Nya.

 

Karena itu, kita harus berhati-hati untuk tidak mengambil kemuliaan atas apa yang sebenarnya adalah pekerjaan anugerah Allah. Setiap kebenaran dalam diri manusia adalah hasil karya anugerah-Nya yang menegur, menyelamatkan, mengubahkan, dan memampukan.

 

Saat membaca silsilah dalam 1 Tawarikh, jangan hanya melihat deretan nama yang panjang. Arahkan hati Anda kepada Allah yang bekerja di balik semua itu. Dalam 1 Tawarikh 1–4, kita melihat garis keturunan dari Abraham, kemudian kepada Daud, dan kepada Yehuda beserta keturunannya. Silsilah ini bukan sekadar catatan tentang usaha, kesetiaan, atau kebenaran manusia, melainkan kesaksian tentang kesetiaan Allah yang sempurna dalam menggenapi setiap janji perjanjian-Nya.

 

Dialah yang memanggil, memampukan, menuntun, memperingatkan, dan mengampuni umat-Nya. Dari janji kepada Abraham, pembebasan dari Mesir, perjalanan di padang gurun, masuk ke tanah perjanjian, hingga berdirinya kerajaan, semuanya adalah karya kuasa dan anugerah Allah bagi umat-Nya. Semua itu ada karena Allah setia.

 

Seperti yang diringkas dalam Roma 11:36: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Inilah Injil itu: Allah setia menepati janji-Nya di dalam Kristus, dan di dalam Dia kita memiliki pengharapan yang tidak akan pernah gagal. 

 

Refleksi
Bacalah Filipi 3:8–14 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun:  1 Tawarikh 1–4