KETIKA KEJAHATAN TAMPAK MENANG
AYUB 11–13
Apa yang menjadi respons hati kita ketika orang jahat terlihat berhasil, sementara orang benar justru menderita?
Saat melihat keadaan di sekitar, sering kali rasanya keadilan tidak benar-benar terjadi. Kadang orang jahat tampak berhasil dan menikmati hidup, sedangkan orang yang berusaha hidup benar malah mengalami kesulitan. Kejahatan terlihat semakin biasa, sementara kebenaran justru sering dianggap salah. Orang yang berpegang pada firman Tuhan dianggap keras dan tidak mengasihi, tetapi mereka yang melanggar kehendak Tuhan justru dipuji dan dihormati.
Di saat seperti itu, hati kita mungkin mulai bertanya-tanya: “Tuhan sebenarnya sedang melakukan apa? Apakah Dia benar-benar masih memegang kendali? Mengapa orang baik menderita? Mengapa orang jahat/fasik terlihat diberkati?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu wajar muncul ketika Anda hidup di dunia yang sudah rusak karena dosa.
Ayub juga merasakan pergumulan yang sama. Walaupun ia hidup benar di hadapan Allah, hidupnya justru penuh penderitaan. Ia berkata: “Aku menjadi tertawaan sesamaku, aku, yang mendapat jawaban dari Allah, bila aku berseru kepada-Nya; orang yang benar dan saleh menjadi tertawaan..” (Ayb. 12:4). Ayub merasa bingung karena ia sudah hidup dengan takut akan Tuhan, tetapi hidupnya malah hancur. Sementara itu, orang-orang jahat terlihat hidup tenang dan aman. Seolah-olah dunia ini terbalik.
Sering kali kita juga merasa seperti itu. Kita berpikir, “Bukankah seharusnya orang baik mendapat hal baik, dan orang jahat mendapat hukuman?” Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa dunia ini bukan berjalan dengan sistem mekanis, seolah-olah setiap perbuatan baik langsung dibalas kenyamanan, dan setiap dosa langsung dibalas penderitaan. Dunia ini berada di bawah pemerintahan Allah yang kudus, bijaksana, dan setia. Hikmat-Nya jauh melampaui pengertian kita. Allah tetap memegang kendali, bahkan ketika hidup terasa tidak adil. Ia bekerja bukan hanya untuk kenyamanan sementara kita, tetapi untuk tujuan yang lebih besar: kemuliaan-Nya dan kehidupan kekal bagi umat-Nya.
Di sinilah Injil memberi kita pengharapan. Yesus sendiri adalah Pribadi yang paling benar, tetapi justru mengalami penderitaan terbesar. Ia difitnah, ditolak, dihina, dan disalibkan. Dari sudut pandang manusia, salib terlihat seperti kemenangan bagi kejahatan. Tetapi justru melalui salib, Allah mengalahkan dosa, kejahatan, maut, dan kuasa kegelapan untuk selama-lamanya. Salib membuktikan bahwa ketika keadaan terlihat paling gelap sekalipun, Allah tetap bekerja menyatakan kasih dan kemenangan-Nya.
Karena itu, ketika hidup terasa tidak adil, kita tetap bisa percaya kepada Tuhan. Kita mungkin tidak memahami semua alasan-Nya sekarang, tetapi kita mengenal hati-Nya melalui Kristus. Tuhan yang memerintah atas penderitaan kita adalah Tuhan yang telah memberikan Anak-Nya bagi kita. Dan karena Kristus telah bangkit, kita memiliki kepastian bahwa suatu hari nanti kejahatan akan dihancurkan sepenuhnya, air mata akan dihapuskan, dan keadilan Allah akan dinyatakan dengan sempurna. Sampai hari itu tiba, kita dipanggil untuk tetap percaya. Ketika dunia terlihat kacau, Injil mengingatkan kita bahwa Tuhan tetap memegang kendali.
Refleksi
Bacalah Mazmur 73:1–28 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 11-13