ANUGERAH DALAM IBADAH
MAZMUR 120–132
Ibadah bersama jemaat pada hari Minggu bukan sekadar kewajiban, melainkan salah satu anugerah Tuhan yang penting dan diberikan dengan penuh kasih kepada kita.
Banyak orang Kristen memandang ibadah Minggu sebagai kewajiban yang harus dilakukan. Namun, Alkitab mengajarkan sesuatu yang jauh lebih indah. Berkumpul bersama jemaat untuk menyembah Tuhan adalah salah satu anugerah Tuhan yang paling berharga bagi umat-Nya. Itulah sebabnya pemazmur menulis dalam Mazmur 122:1–4: “Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel.”
Saat pemazmur membayangkan perjalanan menuju Yerusalem untuk beribadah di Bait Allah, pemazmur menunjukkan tiga sikap hati yang seharusnya juga dimiliki setiap orang percaya.
1. Datang dengan Hati Bersyukur.
Pemazmur tidak pergi ke Yerusalem karena terpaksa. Sebaliknya, ia bersyukur karena memiliki kesempatan untuk datang dan menyembah Tuhan. Ia berkata, "Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem!" menunjukkan ada rasa terima kasih yang memenuhi hatinya karena ia diizinkan hadir di hadapan Allah.
2. Datang dengan Hati yang Antusias.
Pemazmur berkata, "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Ia menantikan ibadah dengan sukacita. Tidak ada kesan bosan atau terpaksa. Hatinya dipenuhi kerinduan karena ia tahu bahwa ia akan datang menemui Tuhan bersama umat-Nya.
3. Sukacita yang Tulus.
Tidak ada kesan bosan atau sekadar menjalankan rutinitas. Tidak ada semangat yang hambar. Yang terlihat justru kegembiraan karena dapat beribadah kepada Tuhan bersama umat-Nya. Bagi pemazmur, ibadah bukan beban, melainkan anugerah yang dinantikan, karena di sanalah ia kembali menikmati hadirat dan kasih karunia Allah.
4. Kesadaran akan Sebuah Hak istimewa.
Ketika ia berkata bahwa kakinya berdiri di gerbang Yerusalem, ia sedang menyadari betapa besar anugerah yang diterimanya. Ia diizinkan masuk ke tempat di mana umat Allah berkumpul untuk menyembah-Nya. Itu bukan hak yang pantas diterimanya, melainkan sebuah kehormatan yang diberikan oleh kasih karunia Tuhan.
Kebenaran ini menjadi semakin nyata melalui karya Kristus. Karena kematian dan kebangkitan Yesus, jalan menuju hadirat Allah telah dibukakan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Dosa yang dahulu memisahkan manusia dari Allah telah ditanggung oleh Kristus di kayu salib. Itulah sebabnya setiap kali Anda datang beribadah, Anda sedang menikmati hak istimewa yang dibeli dengan darah Kristus. Anda datang bukan untuk memperoleh keselamatan, melainkan karena Kristus telah menyelamatkan Anda. Anda tidak beribadah supaya Allah menerima Anda, tetapi karena di dalam Kristus Allah sudah menerima Anda sebagai anak-Nya.
Dengan demikian, ibadah bukan sekadar rutinitas mingguan atau kewajiban agama. Ibadah adalah respons penuh syukur dari orang-orang yang telah ditebus oleh kasih karunia. Di dalam ibadah, Tuhan kembali mengingatkan umat-Nya akan Injil, menguatkan iman melalui firman-Nya, dan membentuk mereka melalui persekutuan dengan tubuh Kristus.
Renungkan kembali, apakah kita memandang ibadah bersama sebagai sebuah anugerah? Ataukah kita mulai menganggapnya sebagai rutinitas biasa sehingga kehilangan rasa syukur atas kasih karunia yang membuat kita menjadi bagian dari umat Tuhan? Kiranya Tuhan memberikan kepada kita hati yang bersukacita setiap kali kita datang berkumpul bersama anak-anak-Nya untuk melakukan hal yang paling penting dalam hidup manusia: menyembah Tuhan.
Refleksi
Bacalah Mazmur 84:1–12 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 120–132