JANGAN MENCURI KEMULIAAN ALLAH
1 TAWARIKH 15–17
Penting bagi kita untuk menolak mengambil kemuliaan atas apa yang sebenarnya tidak mungkin kita capai tanpa anugerah Tuhan.
Kejatuhan seorang pemimpin rohani sering kali dimulai saat ia mulai menganggap keberhasilannya sebagai hasil usahanya sendiri, padahal itu adalah buah dari anugerah, kesetiaan, dan kuasa Tuhan. Artinya, keberhasilan justru bisa lebih berbahaya daripada kegagalan. Keberhasilan dapat mengubah cara kita memandang diri, seolah-olah kita lebih mampu daripada yang sebenarnya.
Keberhasilan bisa membuat kita merasa cukup dengan diri sendiri, bahkan membuat kita perlahan menjauh dari kehidupan penyembahan dan saat teduh. Kita mulai kurang menyadari kehadiran Tuhan dan kurang mengingat kasih karunia-Nya. Keberhasilan juga bisa membuat pelayanan terasa seperti “milik kita,” bukan lagi pekerjaan Tuhan.
Keberhasilan bisa menipu kita, seolah-olah itu tanda bahwa Tuhan menyetujui karakter kita. Padahal, keberhasilan seharusnya mengingatkan kita bahwa Tuhan masih beranugerah melalui kita. Bahkan, keberhasilan bisa membuat kita menutup diri dari orang-orang yang Tuhan kirim untuk menasihati dan menegur kita. Dan kita bisa memperlakukan rekan pelayanan seolah-olah mereka ada untuk menunjang keberhasilan kita, bukan sebagai sesama hamba Tuhan. Yang paling berbahaya, keberhasilan bisa menjadikan kita “pencuri kemuliaan”, mencoba mengambil kemuliaan yang seharusnya hanya milik Sang Raja dan Juruselamat kita yaitu Kristus.
Dalam 1 Tawarikh 16:8–36, dicatat sebuah nyanyian pujian yang penuh sukacita, kerendahan hati, dan kemuliaan bagi Tuhan. Tabut perjanjian Tuhan telah dibawa ke Kota Daud, dan sebagai puncak perayaan, Daud menunjuk Asaf dan saudara-saudaranya untuk menaikkan pujian ini. Daud adalah seorang raja yang sangat berhasil, ia menang dalam peperangan, mempersatukan Israel, memerintah dengan kuat, dan membawa kembali tabut Tuhan ke Yerusalem. Namun hatinya tidak dipenuhi oleh kemuliaan dirinya sendiri. Ia tidak mencari pujian atas apa yang telah ia lakukan. Ia sadar bahwa semua yang terjadi adalah karena hadirat, kuasa, anugerah, dan kesetiaan perjanjian Tuhan. Ia sadar bahwa dirinya bukan pahlawan dalam hidupnya—Tuhanlah pusat segalanya.
Bagian akhir dari nyanyian itu adalah sebuah doa yang indah: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Dan katakanlah: ‘Selamatkanlah kami, ya TUHAN Allah, Penyelamat kami, dan kumpulkanlah dan lepaskanlah kami dari antara bangsa-bangsa, supaya kami bersyukur kepada nama-Mu yang kudus, dan bermegah dalam puji-pujian kepada-Mu.’ Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Maka seluruh umat mengatakan: ‘Amin! Pujilah TUHAN!’” (1Taw. 16:35–36).
Doa ini mengingatkan bahwa tujuan utama keselamatan bukanlah kenyamanan kita, tetapi supaya kita memuliakan Tuhan. Kiranya ini juga menjadi doa kita hari ini: “Selamatkanlah kami, supaya kami memuliakan Engkau.” Mari kita berdoa agar Tuhan melepaskan kita dari pencobaan dan kesulitan, bukan hanya untuk kelegaan pribadi, tetapi agar hidup kita semakin memuliakan Dia dan menuntun orang lain kepada-Nya.
Dalam terang Injil, kita melihat bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya yang layak menerima segala kemuliaan. Ia yang tidak berdosa rela mati menggantikan kita, supaya kita diselamatkan dan dipulihkan kepada Allah. Keselamatan kita murni anugerah—bukan hasil usaha kita. Karena itu, jangan ambil kemuliaan yang bukan milik kita. Arahkan seluruh hidup Anda untuk memuliakan Kristus. Dan hiduplah sebagai orang yang diselamatkan oleh anugerah, bukan oleh kekuatan sendiri.
Refleksi
Bacalah 2 Korintus 10:13–18 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 15-17