KESABARAN TUHAN YANG TAK TERBATAS
YEHEZKIEL 31–33
Hidup kita saat ini dan kehidupan yang akan datang berdiri di atas kesabaran Tuhan yang tidak terbatas.
Kita mungkin sangat mengasihi orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita, tetapi tidak selalu mudah bagi kita untuk bersabar terhadap mereka. Bayangkan ketika anak-anak masih kecil, sebagai orang tua, Anda pasti ingin melindungi, membimbing, mengajar, dan merawat mereka. Kita ingin mereka mengenal kasih karunia Allah, dan kita juga ingin menunjukkan kasih karunia itu melalui kehidupan kita. Tetapi sering kali kita gagal melakukannya.
Hal-hal kecil saja bisa menguji kesabaran kita. Misalnya, ketika beberapa anak hanya ingin mendapatkan tempat duduk terbaik di dalam mobil. Baru saja keluar dari rumah, mereka sudah mulai bertengkar tentang siapa yang duduk di mana. Mereka saling berebut dan menarik satu sama lain sampai akhirnya ada yang menangis dan meminta orang tuanya turun tangan. Kita mungkin merasa kesal hanya karena mereka tidak bisa melakukan hal sederhana dengan damai. Kita mencoba mengatur tempat duduk mereka, tetapi sepanjang perjalanan kita masih harus mendengar keluhan tentang betapa tidak adilnya pembagian tempat duduk itu.
Ketika kita memikirkan betapa sulitnya menjadi orang tua yang sabar dalam menghadapi hal-hal kecil seperti itu, kita seharusnya semakin kagum pada kesabaran Bapa kita yang di surga. Kita mungkin sulit bersabar menghadapi pertengkaran kecil. Tetapi Allah tetap sabar menghadapi umat-Nya yang terus memberontak dan menyembah berhala. Kesabaran Allah bukan berarti Ia berpura-pura bahwa dosa tidak terjadi. Ia juga tidak pernah menurunkan standar kekudusan-Nya hanya supaya umat-Nya merasa nyaman.
Salah satu cara kita melihat kesabaran Allah adalah melalui panggilan-Nya yang lembut dan terus-menerus agar umat-Nya kembali kepada-Nya dalam penyembahan, penyerahan diri, dan ketaatan. Inilah hati Tuhan yang penuh kelembutan dan kesabaran: “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yeh. 33:11)
Perhatikan hati Tuhan dalam ayat ini. Allah tidak sedang menikmati penghukuman. Ia tidak bersukacita melihat manusia binasa. Sebaliknya, Ia memohon agar umat-Nya berbalik dan hidup. Inilah kesabaran Allah: Ia terus memanggil kita pulang, bahkan ketika kita berkali-kali menjauh.
Sering kali kita menyalahartikan kesabaran Tuhan sebagai izin untuk terus hidup dalam dosa. Kita berkata, “Tuhan masih sabar, berarti tidak apa-apa.” Padahal justru sebaliknya. Kesabaran Tuhan adalah kesempatan untuk bertobat, bukan alasan untuk menunda pertobatan. Jika hari ini Tuhan masih menegur kita melalui firman-Nya, itu adalah bukti bahwa kasih karunia-Nya masih bekerja. Ia belum menyerah atas hidup kita.
Namun, kesabaran Allah mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus. Kita adalah orang-orang yang layak menerima hukuman karena dosa kita. Tetapi Allah justru mengutus Anak-Nya untuk menanggung hukuman itu di kayu salib. Di salib, kita melihat bahwa Allah begitu kudus sehingga dosa harus dihukum, tetapi juga begitu sabar dan penuh kasih sehingga Ia sendiri memberikan Kristus sebagai Juruselamat kita. Karena itu, pengharapan kita bukan terletak pada seberapa sabar kita kepada Tuhan, melainkan pada seberapa sabar-Nya Tuhan kepada kita.
Mungkin hari ini Anda merasa sudah terlalu jauh. Mungkin Anda lelah dengan dosa yang terus berulang. Mungkin Anda berpikir Tuhan sudah tidak mau menerima Anda lagi. Dengarkan kembali suara-Nya: “Bertobatlah... mengapakah kamu akan mati?” Itu bukan suara hakim yang ingin menghancurkan, tetapi suara Bapa yang mengasihi anak-anak-Nya. Tuhan yang sabar masih mengulurkan tangan-Nya. Datanglah kepada Kristus dengan pengakuan dan pertobatan. Sebab di dalam Dia, kita menemukan pengampunan, pemulihan, dan kehidupan yang baru.
Refleksi
Bacalah 2 Petrus 3:8–13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 31-33