PERLAHAN MENJAUH DARI TUHAN
YEHEZKIEL 21–22
Menjauh dari Tuhan tidak terjadi secara tiba-tiba. Biasanya sedikit demi sedikit, sampai kita tidak sadar bahwa kita sudah jauh dari Tuhan.
Mungkin kita pernah mengalami hal seperti ini. Kita memiliki dosa atau kelemahan yang sebenarnya sudah mulai menguasai hidup kita, tetapi kita sendiri tidak menyadarinya. Orang-orang di sekitar kita mungkin bisa melihatnya. Mereka mungkin mencoba menegur atau mengingatkan kita. Tetapi kita justru membela diri. Kita merasa bahwa kita baik-baik saja.
Sering kali dosa tidak langsung muncul dan menghancurkan hidup kita dalam satu malam. Dosa bertumbuh sedikit demi sedikit. Tanpa kita sadari, hati kita perlahan berubah dan tidak lagi menjadi orang seperti ketika kita pertama kali mengenal Tuhan dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya.
Bahkan, kita bisa menjadi begitu buta terhadap dosa kita sehingga ketika seseorang membicarakannya atau menegur kita, kita justru merasa tersinggung atau marah. Kita mungkin tidak menyadari seberapa jauh kita telah jatuh sampai Tuhan membuka mata kita dan menunjukkan bahwa kita membutuhkan pertolongan-Nya. Inilah salah satu cara dosa bekerja. Dosa itu penuh tipu daya.
Dosa bisa bersembunyi di tempat-tempat yang tidak kita sadari. Dosa bekerja perlahan, membisikkan kebohongan, dan membuat kita merasa bahwa semuanya baik-baik saja. Dosa biasanya tidak langsung menguasai hati kita dalam satu peristiwa besar. Dosa seperti musuh yang masuk ke dalam rumah kita sebagai tamu yang ramah. Namun, seiring waktu, ia mulai mengambil alih hidup kita. Kita mulai berkompromi dengan sesuatu yang dahulu kita tahu salah. Kita mulai jarang berdoa. Kita kehilangan kerinduan membaca firman Tuhan. Kita mulai membenarkan kemarahan, kepahitan, keserakahan, atau hawa nafsu. Kita mulai lebih mempercayai diri sendiri daripada Tuhan.
Dosa adalah penuntun palsu. Ia menjanjikan sesuatu yang indah, tetapi sebenarnya membawa kita ke jalan kebinasaan. Dosa sering kali tidak menghancurkan kita sekaligus, dosa perlahan-lahan membawa kita menjauh dari tempat di mana kita seharusnya berada. Sering kali dosa bekerja begitu perlahan sehingga kita tidak menyadari bahayanya. Kita dibuat merasa aman, padahal sebenarnya kita sedang berdiri di tepi jurang. Itulah yang terjadi kepada bangsa Israel.
Bangsa Israel juga menjauh dari Tuhan secara perlahan-lahan. Mereka tidak langsung meninggalkan Tuhan dalam satu peristiwa besar. Sebaliknya, mereka mengambil ribuan langkah kecil menjauh dari Allah, menjauh dari perintah-Nya dan dari penyembahan yang seharusnya hanya diberikan kepada-Nya. Sedikit demi sedikit, mereka berubah. Mereka menjadi bangsa yang sangat berbeda dari umat yang dahulu dipanggil untuk menjadi milik Allah.
Ketika melihat kehidupan mereka, budaya mereka, para pemimpin mereka, dan cara mereka beribadah, sulit untuk percaya bahwa mereka adalah umat Allah. Seberapa parah keadaan mereka? Perkataan ini menjelaskan semuanya: “Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya.” (Yeh. 22:30). Allah mencari satu orang yang mau berdiri dan melawan kejahatan yang perlahan-lahan telah menguasai bangsa itu, tetapi Ia tidak menemukannya.
Dan di sinilah Injil menjadi begitu indah. Yehezkiel menunjukkan kepada kita bahwa tidak ditemukan seorang pun yang mampu berdiri bagi bangsa itu. Tetapi Injil memberitakan bahwa Allah sendiri menyediakan Dia yang sanggup melakukannya. Yesus Kristus datang sebagai satu-satunya Pribadi yang benar-benar setia kepada Allah. Ketika manusia terus menjauh, Kristus datang mendekat. Ketika kita gagal menaati Allah, Kristus hidup dalam ketaatan yang sempurna. Ketika kita seharusnya menerima hukuman, Kristus berdiri di tempat kita.
Mungkin hari ini kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Di bagian mana kita mulai perlahan-lahan menjauh dari Tuhan? Dosa apa yang mungkin sudah kita anggap biasa? Di bagian mana hati kita sudah tidak lagi seperti dulu? Kiranya Tuhan memberikan kepada kita mata untuk melihat ketika kita mulai menjauh dari-Nya, hati yang mau menerima teguran-Nya, dan kasih karunia untuk kembali kepada-Nya.
Refleksi
Bacalah Ibrani 3:7–19 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 21-22