KESEMPATAN YANG BARU
1 TAWARIKH 5–9

 

Kita patut bersyukur, karena di dalam Injil terdapat janji tentang kesempatan baru dan awal yang baru.

 

Salah satu bagian firman Tuhan dalam Alkitab adalah Yunus 3:1: “Datanglah firman Tuhan kepada Yunus untuk kedua kalinya, ...”. Kesabaran dan anugerah Allah terhadap Yunus selalu mengherankan setiap kali kisah ini dibaca. Ketika menerima panggilan Tuhan, Yunus justru melarikan diri ke arah yang berlawanan, bukan hanya tidak taat, tetapi juga berusaha menjauh dari hadapan Tuhan. Jika kita berada di posisi Tuhan, mungkin kita sudah menyerah terhadap Yunus. Namun Allah kita adalah Allah yang tidak habis-habisnya dalam kesabaran dan anugerah. Ia mengejar Yunus, menyelamatkannya dari dirinya sendiri, lalu memanggilnya kembali untuk menjalankan tugasnya ke Niniwe. Yunus diberi kesempatan baru dan awal yang baru, bahkan setelah pemberontakannya, karena anugerah Allah begitu besar. Kasih karunia Allah begitu besar, sehingga ketika Ia telah memilih kita, kita tidak dapat melarikan diri dari kasih-Nya.

 

Sejarah umat Israel pun menunjukkan pola yang berulang: komitmen kepada Allah, lalu pemberontakan dan penyembahan berhala, kemudian pertobatan, dan siklus itu terus terjadi. Kejatuhan mereka semakin dalam, hingga dosa mereka tidak berbeda dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah di sekitar mereka. Karena Allah mengasihi umat-Nya, Ia tidak tinggal diam melihat mereka hidup dalam dosa. Seperti seorang ayah yang mengasihi anaknya dan karena itu mendisiplin mereka, demikian pula Allah mendisiplin umat-Nya.

 

Namun disiplin Allah itu bukanlah penghukuman terakhir. Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Ia tidak membatalkan perjanjian-Nya, dan Ia tidak menarik kembali janji-janji-Nya. Pembuangan ke Babel bukanlah akhir dari kisah mereka. Allah memakai Babel bukan sebagai alat penghukuman terakhir, melainkan sebagai sarana untuk memurnikan umat-Nya. Karena Allah adalah Allah yang penuh kesabaran dan anugerah, kisah itu tidak berhenti di sana. Masih ada kelanjutan, yang pada akhirnya mencapai puncaknya dalam kedatangan Anak Daud, yaitu Yesus Kristus.

 

Itulah sebabnya kata-kata dalam 1 Tawarikh 9:1–2 memberi pengharapan: “Seluruh orang Israel telah terdaftar dalam silsilah; mereka tertulis dalam kitab raja-raja Israel, sedang orang Yehuda telah diangkut ke dalam pembuangan ke Babel oleh karena perbuatan mereka yang tidak setia. Dan orang-orang yang mula-mula menetap kembali di tanah-tanah milik mereka, di kota-kota mereka, ialah orang Israel awam, para imam, orang-orang Lewi dan para budak di bait Allah.” 

 

Yehuda memang dibuang karena ketidaksetiaan mereka, tetapi itu bukanlah akhir. Kasih karunia Allah tetap bekerja, membuka jalan bagi pemulihan dan awal yang baru. Mereka kembali ke tanah perjanjian dan memulihkan kembali penyembahan kepada Allah. Dalam terang Injil, kita melihat bahwa semua ini menunjuk kepada Kristus. Di dalam Yesus, setiap kegagalan kita tidak menjadi akhir cerita. Salib menunjukkan bahwa hukuman atas dosa sudah ditanggung, dan kebangkitan-Nya membuka jalan bagi hidup yang baru. Karena itu, sekalipun kita berdosa, kasih karunia Allah tetap menawarkan harapan untuk hari yang baru.

 

Refleksi
Bacalah Yeremia 31:16–20 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 5-9