BATASAN DARI TUHAN
AYUB 14–16
Secara rohani, baik buat kita untuk selalu ingat bahwa Allah dalam hikmat-Nya yang tak terbatas, sudah menetapkan batas-batas bagi hidup kita.
Ketika Anda hidup melampaui batas yang Tuhan tetapkan, hal itu pada akhirnya akan melemahkan dan merusak hidup rohani Anda. Misalnya, manusia tidak diciptakan untuk terus bekerja tanpa istirahat. Anda tidak bisa hidup tanpa tidur selama berminggu-minggu tanpa mengalami akibatnya. Anda juga tidak bisa terus bekerja tanpa henti tanpa melihat dampaknya pada keluarga, tubuh, atau hati Anda.
Demikian juga secara rohani. Anda tidak akan pernah menjadi begitu bijaksana sampai tidak lagi membutuhkan hikmat Tuhan. Anda tidak akan pernah menjadi begitu benar sampai tidak lagi membutuhkan kasih karunia-Nya. Anda tidak akan pernah menjadi begitu kuat sampai tidak lagi membutuhkan pertolongan-Nya. Dan Anda tidak akan pernah memiliki kendali penuh atas hidup sehingga tidak lagi perlu bersandar pada kedaulatan Allah. Saat kita menolak batas yang Tuhan tetapkan, kita mulai hidup dalam rasa cukup diri dan kemandirian yang tidak pernah membawa kepada kebaikan.
Di tengah penderitaannya, Ayub dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup manusia memiliki batas yang tidak bisa dilampaui. Ia berkata: “Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu pada-Mu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya,” (Ayb. 14:5). Ayub menyadari bahwa hidup manusia tidak berada sepenuhnya dalam kendalinya sendiri. Allah telah menetapkan batas bagi manusia, dan tidak seorang pun dapat melewatinya. Jika Anda mengingat kembali kisah penciptaan dalam Kejadian 1–2, Anda akan melihat bahwa hanya Allah satu-satunya Pribadi yang tidak memiliki batas. Manusialah yang diciptakan terbatas.
Namun batas-batas itu bukan tanda bahwa Allah tidak mengasihi Anda. Tuhan tidak menetapkannya untuk menyusahkan atau melemahkan Anda. Sebaliknya, karena Allah menciptakan Anda dengan sempurna, Ia tahu apa yang benar-benar Anda butuhkan. Dalam hikmat-Nya, Ia tidak menciptakan manusia untuk hidup mandiri tanpa Tuhan. Dalam hikmat-Nya, Tuhan menetapkan batas supaya kita belajar merendahkan diri, bersandar kepada-Nya, dan menemukan hikmat, kekuatan, kebenaran, dan kuasa-Nya. Kita sering memberontak terhadap batas itu karena lupa tujuan utama kita diciptakan: mengenal Allah, beristirahat di dalam-Nya, dan menikmati Dia untuk selama-lamanya.
Tidak ada yang lebih menunjukkan keterbatasan manusia selain salib Yesus Kristus. Manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri atau memulihkan hubungannya dengan Allah. Karena itulah kita membutuhkan Juruselamat. Yesus datang menggantikan kita, melakukan apa yang tidak mungkin kita lakukan sendiri, dan melalui kasih karunia-Nya membawa kita kembali kepada Allah. Dia yang tidak terbatas rela mengambil keterbatasan kita supaya kita dapat menikmati kemuliaan kekal bersama Allah.
Di dalam Injil, kita belajar bahwa menerima keterbatasan bukanlah kelemahan, melainkan jalan menuju ketergantungan kepada kasih karunia Tuhan. Karena itu, terimalah batas yang Tuhan tetapkan, dan beristirahatlah dalam hikmat serta kasih karunia-Nya. Semua itu diberikan untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan kekal kita.
Refleksi
Bacalah Amsal 3:5–6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 14-16