HIDUPLAH DALAM KASIH KARUNIA
YEHEZKIEL 23–24

 

Sungguh menyedihkan bahwa kita bukan hanya memilih untuk hidup dalam dosa, tetapi juga menolak pengampunan dan keselamatan yang Tuhan tawarkan.

 

Ada kalanya kita begitu nyaman dengan dosa sehingga kita tidak lagi sungguh-sungguh menginginkan perubahan. Kita mungkin tahu bahwa ada yang salah dalam hidup kita. Kita mungkin sudah mendengar teguran dan nasihat berkali-kali. Bahkan kita tahu bahwa Tuhan menawarkan pengampunan dan pertolongan-Nya. Namun, kita tetap memilih untuk bertahan dalam jalan kita sendiri.

 

Bayangkan sebuah pasangan yang pernikahannya sedang berada dalam masalah besar. Keduanya telah melakukan banyak hal yang merusak hubungan mereka, sehingga rumah yang seharusnya menjadi tempat damai justru menjadi tempat pertengkaran. Sang suami bersikap egois, menuntut, tidak baik, tidak sabar, dan penuh dendam. Ia terus mengungkit kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan istrinya. Selama bertahun-tahun, istrinya memintanya untuk mencari pertolongan. Ia bahkan bersedia ikut bersama suaminya untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya sendiri.

 

Akhirnya, sang suami bersedia datang untuk mendapatkan pertolongan melalui konseling, tetapi hanya untuk membuat istrinya berhenti meminta. Ia sebenarnya tidak ingin berubah. Ia tidak mau melihat kesalahannya sendiri atau mempertimbangkan bagaimana perlakuannya telah melukai istrinya. Dalam keadaan seperti ini, masalahnya bukan hanya karena ia telah berbuat dosa. Yang lebih menyedihkan adalah bahwa ia tidak mau menerima kasih karunia yang dapat mengubah hidupnya.

 

Begitu juga dengan kita. Tuhan bukan hanya menunjukkan dosa kita. Ia juga menawarkan kasih karunia yang mengampuni, mengubahkan, menguatkan, dan membebaskan kita. Karena kasih karunia Allah hadir dan berkuasa, selalu ada pengharapan bagi kita. Allah sanggup mengubah arah hidup yang sudah rusak. Ia sanggup memulihkan apa yang telah dihancurkan oleh dosa. Kasih karunia-Nya bukan hanya teori. Kasih karunia Allah sungguh-sungguh memiliki kuasa untuk memulihkan. Dan kasih karunia itu tersedia bagi kita. Namun, kita bisa saja mendengar semua itu berulang kali dan tetap memilih untuk menolak-Nya.

 

Inilah yang terjadi kepada umat Allah dalam Yehezkiel 24. Ketika Allah menyatakan penghukuman atas mereka, Ia bukan hanya menegur mereka karena kenajisan mereka. Ia juga menegur mereka karena mereka menolak tawaran-Nya untuk dipulihkan: “Oleh karena engkau menajiskan dirimu dengan kemesumanmu, dan Aku ingin mentahirkan engkau, tetapi engkau tidak menjadi tahir dari kenajisanmu, maka engkau tidak akan ditahirkan lagi, sampai Aku melampiaskan amarah-Ku atasmu.” (Yeh. 24:13). Perhatikan perkataan Tuhan: “Aku ingin mentahirkan engkau.” Allah tidak sedang menikmati kehancuran umat-Nya. Ia telah memberikan kesempatan untuk bertobat. Ia ingin mentahirkan mereka. Tetapi mereka terus menolak. Masalahnya bukan karena Allah tidak menawarkan kasih karunia. Masalahnya adalah manusia sering kali lebih memilih dosanya daripada kasih karunia Allah.

 

Kita semua berdosa. Tetapi kasih karunia Allah datang kepada orang berdosa dan berkata, “Kembalilah. Aku akan mentahirkan engkau.” Namun hati kita sering berkata, “Saya tidak mau.” Kita ingin pengampunan tanpa pertobatan. Kita ingin keselamatan tanpa meninggalkan dosa. Kita ingin Allah menghibur kita, tetapi tidak ingin Allah mengubah kita. Kita ingin kasih karunia Allah, tetapi sering kali tidak ingin kuasa kasih karunia itu mengubah hidup kita. Itulah sebabnya dosa begitu berbahaya. Dosa membuat kita percaya bahwa kita lebih tahu apa yang baik bagi kita daripada Allah.

 

Namun, di sinilah Injil menjadi pengharapan kita. Kita tidak membutuhkan sekadar nasihat untuk “berubah”. Kita membutuhkan Juruselamat yaitu Yesus Kristus. Kristus datang kepada manusia yang najis dan tidak mampu mentahirkan dirinya sendiri. Ia mati di kayu salib untuk menanggung hukuman dosa kita. Ia bangkit untuk memberikan kehidupan yang baru. Di dalam Kristus, Allah tidak hanya berkata, “Aku mengampunimu.” Ia juga berkata, “Aku akan membuat engkau baru.” Kasih karunia tidak hanya membersihkan kita dari kesalahan masa lalu. Kasih karunia juga memberi kita hati yang baru untuk hidup bagi Allah.

 

Jika Tuhan sedang memanggil kita untuk bertobat, itu bukan tanda bahwa Ia ingin menghancurkan kita. Itu adalah tanda bahwa Ia sedang menunjukkan kasih karunia-Nya kepada kita.

 

Refleksi

Bacalah Ibrani 10:19–31 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 23-24