ALLAH YANG TIDAK SEPERTI KITA
1 SAMUEL 15–17

 

Kita melayani Allah yang pasti dan dapat dipercaya. Ia tidak pernah berada dalam kebingungan, tidak pernah berdusta, tidak pernah melakukan kesalahan, dan tidak memiliki penyesalan.

 

Setiap manusia pada suatu waktu akan bergumul dengan penyesalan. Kita sering menoleh ke belakang dan berharap tidak pernah mengatakan hal-hal tertentu. Kita terbebani oleh keputusan-keputusan yang salah atau pilihan yang seandainya bisa kita ulang kembali. Sebagai orang tua, mungkin ada kerinduan untuk menghapus beberapa percakapan dari ingatan anak-anak Anda. Dosa meninggalkan jejak dalam hidup kita. Jalan di belakang kita penuh dengan kesalahan, kelemahan, kegagalan, dan dosa.

 

Bahkan sepanjang hidup kita belajar menghadapi penyesalan, mengakui dosa, mengakui kelemahan, dan terus berlari kembali kepada kasih karunia pengampunan dari Tuhan. Akan tiba suatu hari di mana tidak ada lagi penyesalan, tidak ada lagi dosa untuk diakui, dan kita akan sepenuhnya dibebaskan dari kelemahan kita. Namun, kita tahu bahwa saat ini kita belum sampai di sana.

 

Inilah sebabnya kita menemukan penghiburan dan pengharapan dalam pernyataan Samuel ketika ia mengumumkan bahwa Allah menolak Saul yang tidak taat sebagai raja: “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan tidak tahu menyesal, sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal.” (1 Sam. 15:29). Katakanlah pada diri Anda sendiri: “Allah tidak seperti aku. Ya, Allah tidak seperti aku.” Lalu nikmatilah penghiburan besar dari kebenaran itu. Relasi manusia sering kali rumit, penuh luka, dan tidak sempurna. Kita gagal, kita menyakiti, kita membawa kelemahan kita ke dalam hubungan. Tidak ada manusia yang sempurna. Bahkan dalam pernikahan, kita diingatkan bahwa kita menikah dengan orang yang tidak sempurna. 

 

Dunia yang tanpa penyesalan telah hancur sejak manusia pertama jatuh dalam dosa. Tetapi Allah tidak seperti kita. Ia sempurna sepenuhnya. Setiap maksud-Nya murni. Kekudusan-Nya sempurna. Ia tidak bisa berdusta. Ia tidak pernah membutuhkan kesempatan kedua. Ia tidak pernah perlu diampuni. Ia tidak pernah harus mengakui dosa.  Ia selalu benar, selalu kudus, selalu setia—di setiap waktu dan di setiap tempat. Tidak ada penyesalan. Tidak ada dusta. Allah tidak seperti kita.

 

Di tengah kegagalan besar manusia—seperti yang terjadi pada Saul—dan di tengah dunia yang penuh dengan kegagalan hari ini, kita diarahkan kepada satu-satunya sumber pengharapan dan Pribadi yang tidak pernah gagal. 

 

Inilah Injil itu: bukan kita yang sempurna, tetapi Allah yang sempurna datang mendekat kepada kita yang penuh dosa. Di dalam Kristus, kita tidak lagi berdiri di atas kemampuan kita, tetapi di atas kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah. Beritakan Injil ini kepada hati Anda sendiri: Allah itu sempurna, dan di dalam Dia ada pengharapan yang tidak pernah goyah. Dan di dalam kepastian itu, kita dapat beristirahat dalam pemeliharaan-Nya yang tidak pernah gagal.

 

Refleksi
Bacalah Bilangan 23:19–20 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 15-17