PENGAKUAN YANG MEMULIHKAN
1 SAMUEL 13–14

 

Ketika kita berbuat dosa, sebenarnya hanya ada dua pilihan: mengakuinya di hadapan Allah atau membuat berbagai alasan supaya dosa itu terasa dapat diterima oleh hati nurani kita.

 

“Iya, aku lupa.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Dia mengalihkan perhatianku.”
“Kukira maksudnya nanti.”
“Aku tadi mau melakukannya.”
“Kenapa dia tidak melakukannya juga?”
“Aku kehabisan waktu.”
“Tadi Ibu menyuruh aku melakukan yang lain dulu.”

 

Anda bisa menuliskan berlembar-lembar alasan yang pernah diberikan oleh anak-anak Anda ketika mereka tidak taat. Tetapi jangan terlalu keras kepada anak-anak. Jika kita jujur, kita pun sering melakukan hal yang sama.

 

Ketika kita berdosa, ada dua pilihan. Pilihan yang lebih baik adalah mengakui dosa kita, mengakuinya kepada Allah, lalu beristirahat dalam anugerah pengampunan-Nya. Namun sering kali kita memilih pilihan yang kedua: kita membangun berbagai alasan agar dosa kita terlihat tidak terlalu salah, sehingga akhirnya hati kita dapat menerimanya dan terasa wajar di hati kita.

 

Alih-alih mengakui dosa, kita justru membela diri dengan berbagai alasan, kita menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, atau menganggap sikap buruk kita sebagai hal yang bisa dimaklumi. Kita berkata bahwa kejengkelan dan ketidaksabaran kita disebabkan oleh kesibukan. Kita mengatakan bahwa hawa nafsu kita bukanlah dosa, melainkan sekadar menikmati keindahan. Kita bahkan membenarkan teriakan kepada anak-anak sebagai “kemarahan yang benar.”

 

Masalahnya adalah ini: kita tidak bisa mengecilkan dosa tanpa sekaligus meremehkan anugerah Allah. Semakin kita membenarkan diri sendiri, semakin kita tidak lagi mencari dan menghargai anugerah Tuhan.

 

Dalam 1 Samuel 13, Saul sedang menunggu nabi Samuel. Namun dalam penantiannya ia melakukan sesuatu yang telah dilarang oleh Allah: ia mempersembahkan korban sendiri, padahal hanya para imam yang boleh mempersembahkan korban bagi umat. Ketika Samuel menegur Saul, perhatikan bagaimana Saul merespons: “Tetapi kata Samuel: ‘Apa yang telah kauperbuat?’ Jawab Saul: ‘Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran.’” (1Sam. 13:11–12).

 

Ketika dosanya terbongkar, Saul melakukan dua hal. Ia menyalahkan orang lain yaitu Samuel karena dianggap datang terlambat, dan ia mencoba membenarkan dosanya dengan mengatakan bahwa ia melakukannya untuk mencari perkenanan Tuhan.

 

Bagian yang paling mencolok dari pembelaan Saul adalah ketika ia berkata, “Aku memaksa diri.” Seolah-olah ia tidak punya pilihan lain. Inilah kedegilan rohani: menolak, mengecilkan, atau mencari alasan atas dosa kita. Mengapa? Karena Allah kita adalah Allah yang sabar, penuh kasih, dan mengampuni. Ia tidak pernah menolak orang berdosa yang datang kepada-Nya dengan hati yang hancur dan mau bertobat.

 

Mencari alasan untuk dosa tidak pernah membawa kita ke arah yang baik. Sebaliknya, pengakuan dosa selalu menghasilkan buah yang baik. Karena itu, dalam terang Injil: datanglah kepada Allah dengan rendah hati, akuilah dosamu, dan percayalah pada karya penebusan Kristus. Di dalam Dia, kita tidak perlu menyembunyikan dosa—karena Kristus sudah menanggungnya. Allah akan menyambut Anda dengan belas kasihan dan memberkati Anda dengan kasih penebusan-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 51:1–19 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 13-14