DOA UNTUK KEMAKMURAN
Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja. – 3 Yohanes 2
Apakah Allah menghendaki kita hidup berkecukupan? Apakah Ia ingin kita berhasil? Apakah Ia ingin kita hidup dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan ini sering menimbulkan perdebatan dan tidak sederhana. Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana kita mendefinisikan ‘kemakmuran’ dan ‘keberhasilan’. Alkitab dengan jelas menolak gagasan “injil kemakmuran”—seolah-olah Allah adalah mesin pemberi berkat, Yesus hanyalah sarana untuk mencapai keinginan kita, dan Roh Kudus adalah alat pemuas ambisi pribadi.
Allah tidak pernah menjanjikan bahwa iman akan selalu membawa kesehatan dan kekayaan di dunia ini. Kita tidak boleh melupakan bahwa Yesus sendiri—yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya di dunia ini (Luk. 9:58) berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk. 8:34).
Di sisi lain, rasul Yohanes dengan terbuka dan tulus mendoakan kesejahteraan bagi penerima surat ketiganya. Apa yang dalam bahasa aslinya diterjemahkan sebagai “keadaanmu baik” sebenarnya berasal dari kata Yunani yang berarti “baik-baik” atau “berjalan dengan baik.” Namun, penting untuk diperhatikan bahwa Yohanes memberi semacam penegasan penting: “sama seperti jiwamu baik-baik saja.” Ini adalah pengingat yang halus tetapi sangat penting bahwa kesehatan dan kemakmuran materi tidak pernah terlepas dari kondisi rohani. Bahkan, kita bisa mengatakan bahwa kita hanya dapat benar-benar sejahtera dalam hal-hal lain sejauh kita terlebih dahulu bertumbuh dan sejahtera secara rohani.
Seperti yang Yesus katakan, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Mrk. 8:36). Portofolio Anda bisa melimpah, tubuhmu bisa sekuat atlet triatlon, tetapi jika jiwamu tidak sehat, maka semua kemakmuran finansial dan fisik itu pada akhirnya tidak berarti apa-apa. Segala pencapaian, harta, dan kenyamanan akan menjadi sia-sia jika jiwa kita kosong di hadapan Allah. Ketahanan seorang atlet, kecerdasan seorang pelajar, atau kekayaan seseorang tidak berarti apa-apa jika hati tidak dipulihkan oleh anugerah Kristus.
Lalu, bagaimana kita memahami doa Yohanes secara praktis? Sering kali kita dengan mudah mendoakan, “Kiranya jiwamu baik-baik saja.” Tetapi mungkin kita jarang berani mendoakan hal-hal konkret seperti: “Kiranya segala sesuatu berjalan sangat baik dalam usaha saudaraku.” “Kiranya anak-anak saudaraku bertumbuh dengan baik dan diberkati.” “Kiranya Allah menyatakan kebaikan-Nya dalam seluruh pekerjaan saudaraku.”
Kita perlu mengingat bahwa hal-hal ini bukanlah tujuan akhir hidup, tetapi bukan berarti hal-hal ini tidak penting. Injil mengajar kita untuk berjaga-jaga terhadap “injil kemakmuran”, namun Injil yang sama juga mengajar kita untuk mengasihi sesama secara nyata dan utuh.
Kasih yang tidak egois selalu menginginkan yang terbaik bagi orang lain—pertama-tama bagi jiwanya, tetapi juga bagi panggilan hidup, relasi, dan pekerjaan yang Tuhan percayakan kepadanya.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup dan bekerja dengan taat kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Karena itu, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk dengan rendah hati dan berani berdoa bagi kesejahteraan yang benar bagi sesama, agar Pemberi segala berkat dimuliakan melalui apa yang Ia berikan. Injil mengarahkan hati kita bukan untuk mengejar berkat, tetapi untuk mengejar Kristus—dan di dalam Dia, kita belajar menempatkan setiap berkat pada tempat yang benar.
Refleksi
Bacalah Efesus 3:20-21 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Maleakhi 1-4; Lukas 24:36-53