TUGAS YANG BELUM SELESAI
Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi. – Lukas 24:48-49
Kita dipanggil untuk melakukan sebuah tugas yang tidak mungkin kita jalani dengan kekuatan kita sendiri yaitu menjadi saksi bagi Kristus. Setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri kepada para murid. Ia menenangkan ketakutan dan keraguan mereka dengan menunjukkan tanda paku di tangan dan kaki-Nya (Luk. 24:39). Ia mengingatkan mereka akan semua yang telah tertulis tentang diri-Nya (ay. 44) dan membuka pikiran mereka pada kebenaran Kitab Suci (ay. 45). Dan sebelum Ia kembali ke takhta surgawi-Nya, Yesus memberikan mereka sebuah tugas: untuk menjadi saksi atas apa yang telah mereka lihat dan dengar dari-Nya. Kebenaran tentang Dia harus diberitakan—bukan hanya kepada segelintir orang, tetapi “kepada segala bangsa” (ay. 47).
Karena tugas itu belum selesai sampai hari ini, umat Allah pada masa kini pun dipanggil untuk menjadi saksi, sama seperti murid-murid pada waktu itu. Kita mungkin tidak dapat berkata seperti rasul Yohanes, “Apa yang… telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup…kami beritakan kepada kamu juga” (1Yoh. 1:1, 3). Namun, di dalam Alkitab kita memiliki firman Allah itu sendiri—firman yang bukan hanya dipanggil untuk kita percayai, tetapi juga untuk kita beritakan.
Namun kenyataannya, kita sangat terbatas. Satu menit kita percaya; menit berikutnya, pikiran kita dipenuhi keraguan. Kita sering mundur dalam ketakutan daripada maju dengan iman. Kita seringkali tidak tahu apa yang harus kita katakan tentang Injil kepada orang-orang di sekitar kita.
Yesus, Sang Gembala yang Baik, mengetahui semua itu. Ia mengenal domba-domba-Nya—Ia tahu kecenderungan kita untuk takut dan gentar—dan Ia meyakinkan kita bahwa kita tidak perlu berbicara atau bertindak hanya dengan kekuatan kita sendiri. Tidak. Kita telah menerima apa yang Yesus perintahkan untuk ditunggu oleh para murid mula-mula: “janji Bapa,” yaitu Roh Kudus-Nya, sehingga kita “dipenuhi dengan kuasa dari tempat yang tinggi.”
Yesus memberikan Roh-Nya kepada kita supaya kita terlibat dalam pekerjaan Kerajaan Allah—supaya kita membawa kabar baik itu kepada bangsa-bangsa, sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8). Karena itu, jangan menyerah pada rasa takut dan gentar. Apa yang tidak sanggup Anda lakukan dengan kekuatanmu sendiri, dapat Anda lakukan oleh kuasa yang Ia berikan. Sebab, Injil bukan tentang apa yang mampu kita lakukan bagi Allah, melainkan tentang apa yang Allah kerjakan bagi kita melalui Kristus.
Maka pergilah dengan bersandar pada Roh Allah, dan dengan doa, ambillah bagian Anda dalam tugas besar yang masih belum selesai ini: memberitakan nama dan kemuliaan Yesus Kristus kepada bangsa-bangsa, baik yang dekat maupun yang jauh. Tugas ini belum selesai—tetapi Kristus telah menyelesaikan keselamatan kita. Dari kemenangan-Nya, kita diutus. Dari anugerah-Nya, kita dimampukan.
Refleksi
Bacalah Matius 28:16-20 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 13-14; Lukas 24:1-35