KEMULIAAN ALLAH DI TENGAH KITA
Keluaran 39–40
Oleh anugerah, kita bukan hanya diterima menjadi keluarga Allah, tetapi kemuliaan kehadiran-Nya juga berdiam di dalam dan di tengah-tengah kita.
“Lalu awan menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci itu. Musa tidak dapat memasuki Kemah Pertemuan itu karena awan telah turun di atasnya, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci itu. Sepanjang perjalanan mereka, setiap kali awan itu terangkat dari atas Kemah Suci, orang Israel pun berangkat. Tetapi jika awan itu tidak terangkat, mereka tidak berangkat sampai hari awan itu terangkat. Sebab awan TUHAN ada di atas Kemah Suci pada siang hari, dan api ada di dalamnya pada malam hari, di depan mata seluruh umat Israel, sepanjang perjalanan mereka.” (Keluaran 40:34–38).
Bacalah kembali ayat firman Tuhan ini, dan biarkan hati Anda dipenuhi oleh rasa kagum yang terkandung di dalamnya. Inilah salah satu momen anugerah ilahi yang paling agung dalam seluruh Perjanjian Lama: Allah yang Mahakudus berkenan hadir dan memenuhi tempat di tengah umat-Nya. Kita tidak boleh membiarkan kata-kata seperti ini lewat begitu saja di pikiran kita. Momen ini dicatat oleh Allah dan dituliskan dalam firman-Nya agar hari ini kita dapat berhenti sejenak, terpukau, dan dipenuhi kekaguman, sekaligus menolong dan mengubahkan kita, sehingga hati kita kembali diarahkan dan berpusat hanya pada kemuliaan Allah.
Bangsa Israel telah berulang kali menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya: umat yang berdosa, suka bersungut-sungut, memberontak, dan penuh keraguan. Mereka meragukan kehadiran dan kuasa Allah, bahkan mempertanyakan hikmat-Nya. Yang lebih mengejutkan lagi, mereka pernah membuat patung anak lembu emas dan memberikan kemuliaan kepada sesuatu yang bukan Allah (Kel 32:1–6). Namun, di tengah ketidaklayakan mereka, Allah tetap setia pada rencana penebusan-Nya.
Bangsa Israel termasuk dalam rencana Allah bukan karena mereka layak, tetapi karena Allah memilih untuk mengasihi mereka. Allah yang menyertai kita, diam di dalam kita, dan berpihak kepada kita—semua itu selalu merupakan hasil dari satu hal saja: anugerah. Awan dan api adalah tanda yang nyata dan dapat dilihat dari kehadiran Allah. Itu mengingatkan Israel bahwa mereka adalah umat pilihan-Nya—dipisahkan dan dikuduskan bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk hidup bagi kehendak dan kemuliaan Allah. Kehadiran Allah menentukan kapan mereka bergerak dan kapan mereka berhenti. Hidup mereka bergantung sepenuhnya pada pimpinan Tuhan.
Dalam terang Injil, kebenaran ini mencapai kepenuhannya di dalam Kristus. Jika dahulu kemuliaan Allah memenuhi Kemah Suci, kini melalui Yesus Kristus, Allah berdiam di tengah umat-Nya—bahkan di dalam kita. Bukan karena perbuatan baik kita, bukan karena kesalehan kita, melainkan karena karya Kristus yang sempurna di kayu salib.
Kemuliaan Allah yang menyertai kita bukan hanya berarti Tuhan dekat, tetapi bahwa kita adalah milik-Nya. Kita telah ditebus, dipisahkan, dan dipanggil untuk hidup bagi tujuan dan kemuliaan-Nya. Hidup orang percaya tidak lagi digerakkan oleh kehendak diri, melainkan oleh kehadiran Tuhan yang memimpin setiap langkah.
Inilah Injil: Allah yang kudus berkenan tinggal bersama orang berdosa yang ditebus oleh anugerah. Dan dari sana, hidup kita dibentuk—bukan oleh usaha manusia, tetapi oleh kemuliaan Allah yang tinggal di dalam kita.
Refleksi
Bacalah Efesus 1:15-23 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 39-40