BUKAN PEMILIK, MELAINKAN PENGELOLA
Keluaran 36–38

 

Tuhan bukan hanya memberi kita berbagai karunia, tetapi Ia juga bekerja di dalam hati kita sehingga kita rindu mempersembahkan semuanya itu bagi kemuliaan-Nya.

 

Jika Allah adalah Sang Pencipta, dan Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Ia adalah Pencipta—maka Dialah pemilik sejati dari setiap karunia yang kita miliki. Kesadaran ini sungguh membuat kita rendah hati bahwa bukan kita pemiliknya, melainkan kita hanya seorang pengelola yang dipercaya oleh-Nya.

 

Karunia apapun yang kita punya sebenarnya itu adalah milik Tuhan. Dialah sumber dari setiap kemampuan manusia untuk mencipta dalam bentuk apa pun. Dialah juga yang berdaulat menentukan siapa menerima karunia tertentu. Kita bukanlah pemilik, melainkan hanya pengelola. Seperti yang tertulis dalam Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” Kita tidak menciptakan kemampuan kita sendiri, dan kemampuan kita itu juga tidak bertahan karena kekuatan kita. Karunia-karunia itu bukan milik kita, dan tidak diberikan untuk memuliakan diri sendiri.

 

Dalam kisah Alkitab tentang perancangan dan pembangunan Kemah Suci—tempat Tuhan berdiam di tengah umat-Nya, kita seakan diajak melihat dengan jelas dari mana asal karunia manusia dan untuk apa karunia itu diberikan. Tuhan menghendaki rumah-Nya dirancang dengan indah. Untuk itu, dibutuhkan orang-orang yang memiliki keahlian khusus, dan Tuhan sendirilah yang memberikan karunia tersebut kepada mereka. “Maka Musa memanggil Bezaleel dan Aholiab serta setiap orang yang ahli, yang kepadanya TUHAN telah memberikan keahlian, setiap orang yang hatinya tergerak untuk melakukan pekerjaan itu” (Kel. 36:2).

 

Dari ayat ini, kita belajar dua hal penting tentang keterlibatan Tuhan dalam karunia yang kita miliki. Pertama, disebutkan bahwa Tuhanlah yang menaruh keahlian itu dalam akal budi manusia. Ini menunjukkan kuasa dan kehadiran Tuhan yang nyata. Ia berdaulat menempatkan kemampuan, keahlian, dan talenta pada siapa pun yang Ia kehendaki. Hal ini tidak hanya berlaku dalam pembangunan Kemah Suci, tetapi juga dalam seluruh kehidupan kita. Kreativitas berasal dari Sang Pencipta, dan jika berasal dari-Nya, maka karunia itu adalah milik-Nya.

 

Kedua, ayat ini juga mengajarkan satu hal lagi yang tak kalah penting. Tuhan bukan hanya memberi karunia, tetapi Ia juga menggerakkan hati kita untuk memakai karunia tersebut.  Dalam Injil, kita melihat bahwa Allah tidak berhenti pada pemberian; Ia juga memanggil respons hati kita. Melalui Kristus, kita dipulihkan bukan hanya untuk menerima anugerah, tetapi untuk hidup bagi kemuliaan Allah.

 

Karena itu, hari ini, apa pun karunia yang Tuhan percayakan kepada Anda, entah kemampuan teknis, keahlian memasak, bakat musik, keterampilan bertukang, atau kemampuan menata lingkungan agar menjadi indah—berhentilah sejenak dan naikkanlah ucapan syukur kepada-Nya. Persembahkan kembali karunia itu kepada Sang Pemilik dan Pemberi Sejati. Injil mengingatkan kita bahwa kita diselamatkan oleh anugerah dan kita hidup untuk kemuliaan-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Kolose 3:12-17 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 36-38