AKU TAHU PENEBUSKU HIDUP
AYUB 17–20

 

Di tengah semua pertanyaan, tekanan, kekecewaan, dan penderitaan hidup, sungguh melegakan ketika Anda dapat berkata, “Aku tahu: Penebusku hidup.”

 

Semua orang memiliki sesuatu yang mereka percaya dan jadikan sandaran hidup, termasuk orang yang menganggap dirinya tidak religius sekalipun. Itulah yang membuat seseorang tetap bangun setiap pagi dan menjalani hidup. Itulah yang memberi kekuatan saat hati sedih, memberi harapan ketika impian hancur, dan membuat seseorang tetap bertahan ketika penderitaan datang.

 

Singkatnya, semua orang hidup oleh iman. Semua orang pasti menaruh harapan pada sesuatu yang dianggap aman dan tidak akan mengecewakan. Ada yang berharap pada uang, hubungan, kemampuan diri, pekerjaan, kesehatan, atau masa depan. Semua orang memiliki “tempat bersandar” bagi hatinya. Ketika setiap orang beriman kepada sesuatu, yang membedakan orang Kristen bukanlah bahwa mereka memiliki iman, melainkan kepada siapa iman itu ditujukan. 

 

Masalahnya, banyak hal yang dijadikan sandaran manusia pada akhirnya akan gagal. Dunia yang berdosa ini tidak cukup kuat untuk menjadi dasar pengharapan yang sejati. Hanya ada satu Pribadi yang benar-benar dapat menjadi sumber keamanan dan pengharapan yang tidak terguncangkan yaitu Allah sendiri. Karena itu, jika Anda ingin memiliki damai yang kokoh dalam hati, jangan terus melihat kepada hal-hal di sekitar Anda. Arahkan hati Anda kepada Tuhan. Hanya Allah yang tidak berubah, tidak gagal, selalu setia, dan tetap memegang kendali atas setiap keadaan dalam hidup Anda.

 

Inilah keyakinan yang dimiliki Ayub di tengah penderitaan, kehilangan, nasihat yang keliru dari sahabat-sahabatnya, dan kebingungan tentang apa yang sedang Allah kerjakan. Hati Ayub akhirnya bersandar pada satu kebenaran yang pasti. Kata-kata yang diucapkannya di tengah kesesakan telah menguatkan banyak orang percaya sepanjang sejarah. Mungkin pada saat itu, Ayub tidak mengerti, tetapi ada satu hal yang benar-benar dia yakini: “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah” (Ayb. 19:25–26).

 

Melalui perkataan itu, Ayub sedang mengingatkan dirinya sendiri di mana pengharapan sejati dapat ditemukan. Apa yang memberi Ayub kekuatan? Ia tahu bahwa Allah hidup dan tidak akan pernah hilang. Ketika semua hal lain berlalu, Allah tetap ada. Lebih dari itu, sekalipun Ayub sedang menderita, bingung, dan merasa Tuhan jauh darinya, ia percaya bahwa Allah tidak meninggalkannya. Ayub yakin akan tiba waktunya ia melihat Allah dengan matanya sendiri.

 

Firman hari ini mengingatkan kita bahwa dasar pengharapan kita bukanlah dari keadaan yang baik, melainkan pada Juruselamat yang hidup. Mungkin hari ini hidup Anda sedang baik-baik saja dan Anda tidak memiliki jawaban untuk setiap pergumulan itu. Namun, kita memiliki kepastian yang jatuh lebih besar yakni Kristus hidup, memerintah, dan memegang hidup kita di dalam tangan-Nya.

 

Cepat atau lembat, setiap kita akan menghadapi penderitaan hidup. Ketika Anda menghadapi air mata, kehilangan, dan penderitaan, kiranya Anda dapat memandang kepada Kristus dan berkata: “Ada banyak hal yang tidak aku mengerti sekarang, tetapi satu hal ini aku tahu dengan pasti: Penebusku hidup.”

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 121:1–8 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 17-20