HATI YANG NAJIS DIJADIKAN BARU
Imamat 11–13

 

Oleh mukjizat kasih karunia Allah, hati yang najis dijadikan baru dan murni.

 

Imamat 13:45–46 berkata: “Orang yang kena kusta itu haruslah memakai pakaian yang terkoyak, rambut kepalanya harus terurai, menutupi janggutnya dan berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena kusta, ia tetap najis; ia harus tinggal terasing, tempat tinggalnya harus di luar perkemahan.” 

 

Ketentuan ini terdengar keras, tetapi Allah sedang mengajarkan sesuatu yang sangat serius: kenajisan tidak bisa dianggap sepele. Penyakit kusta bukan hanya masalah fisik, tetapi gambaran nyata tentang dosa. Kusta membuat seseorang terasing dari komunitas; dosa pun melakukan hal yang sama—memisahkan manusia dari Allah, Sumber hidup itu sendiri.

 

Tidak seorang pun kebal terhadap dosa. Dosa adalah infeksi terdalam manusia. Ia membuat kita najis, rusak, dan terpisah dari Sang Pencipta. Karena itu, Daud berseru setelah kejatuhannya dalam dosa perzinahan: “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh” (Mzm. 51:10).

 

Seruan ini menunjukkan kebenaran Injil: hukum Allah dapat menunjukkan penyakit dosa, tetapi hanya anugerah Allah yang sanggup menyembuhkannya. Dosa itu seperti noda membandel pada kain putih, seperti coretan hitam pada lembaran yang bersih, seperti anggur yang tumpah pada gaun baru, seperti cipratan cat di kaca jendela, seperti lumpur pada sepatu baru, noda ini tidak akan hilang dengan sendirinya. Noda itu tidak akan memudar begitu saja. Kita tidak akan bangun suatu pagi dan mendapati noda itu lenyap. Noda yang paling dalam, paling gelap, dan paling meresap harus benar-benar dibersihkan.

 

Menyangkal keberadaannya tidak pernah berhasil. Berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikannya tidak akan menghilangkannya. Belajar hidup dengannya adalah kebodohan. Berharap orang lain tidak melihatnya adalah kesia-siaan. Mengkhawatirkannya pun tidak mengubah apa-apa. Apa yang ternoda harus dibersihkan. Demikianlah hati manusia.

 

Menyedihkan untuk diakui, tetapi tidak ada seorang pun yang memiliki hati yang benar-benar murni, bersih sempurna, tanpa noda, indah tanpa cela. Tidak ada seorang pun. Setiap hati manusia datang ke dunia ini dalam keadaan ternoda oleh dosa. Dosa seperti tinta permanen, meresap ke dalam bagian terdalam hati, ke dalam pikiran, keinginan, motif, tujuan hidup, bahkan kepada apa yang kita sembah.

 

Noda dosa ini tidak bisa dihapus dengan usaha manusia. Tidak peduli seberapa keras Anda mencoba, tidak peduli seberapa sering Anda berusaha, noda itu akan tetap ada, tanpa kuasa yang sanggup membersihkannya.

 

Namun Anda dapat memandang noda itu dengan pengharapan, sebab ada kuasa yang sanggup membersihkan. Ada aliran pembasuhan sejati. Aliran itu mengalir melalui hidup Yesus yang benar, melalui pengorbanan-Nya sebagai pengganti kita, dan melalui kebangkitan-Nya yang penuh kemenangan. Yesus datang supaya hati yang ternoda oleh dosa memiliki pengharapan untuk dibersihkan kembali, diperbarui kembali, dipandang tak bercela di hadapan-Nya, dan dimurnikan untuk selama-lamanya.

 

Ketika Anda mengakui bahwa hati Anda bernoda, Allah setia dan adil: Ia mengampuni dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Keluarlah dari rasa malu karena noda dosa Anda. Jangan berharap pada hal-hal yang tidak memiliki kuasa untuk membersihkan. Tinggalkan hidup dalam penyangkalan. Akuilah bahwa Anda tidak punya kuasa untuk membersihkan diri sendiri. Berhentilah menyalahkan orang lain atau keadaan.

 

Dengan rendah hati, bawalah “pakaian” hatimu kepada-Nya. Serahkanlah segala noda itu ke dalam tangan-Nya. Ia akan membasuh Anda dengan kasih karunia-Nya. Ia bersukacita melakukannya bagi Anda apa yang tidak akan pernah sanggup Anda lakukan bagi diri sendiri. Inilah kabar baik Injil: keselamatan bukan tentang usaha kita menjadi bersih, melainkan tentang Kristus yang membersihkan kita sepenuhnya.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 51:1–12  untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 11-13