MENGHADAPI DOSA DENGAN SERIUS
Imamat 8–10
Kita perlu memandang dosa dengan serius, karena Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Allah memandang dosa dengan sangat serius.
Ada kisah nyata tentang seorang suami yang penuh amarah, kasar secara emosional, menuntut, mengontrol, dan melukai secara fisik. Ia telah menghancurkan kelembutan, kesatuan, damai sejahtera, dan sukacita dalam pernikahannya. Istrinya hidup dalam ketakutan—takut akan kemarahan suaminya yang bisa muncul kapan saja. Saat sang istri menyampaikan luka hatinya, ia justru diejek karena dianggap lemah dan terlalu membutuhkan perhatian.
Dengan berlinang air mata, istrinya menceritakan mengapa ia memohon agar suaminya mau ikut konseling—sementara di ruang konseling itu sang suami duduk dengan tangan terlipat dan senyum mengejek. Ia tidak merasa malu. Ia tidak merasa bersalah. Ia tidak menganggap perilakunya sebagai masalah besar. Ia jelas bukan datang karena merasa membutuhkan pertolongan. Ia datang hanya untuk menenangkan istrinya, supaya ia berhenti menuntut, lalu mereka bisa “melanjutkan hidup seperti biasa.” Inilah gambaran dosa yang sering kali tidak kita sadari juga ada dalam diri kita sendiri.
Sering kali kita juga tidak menganggap dosa kita terlalu serius. Ada saat-saat ketika kesombongan dan ketidaksabaran kita terasa sepele. Ada saat-saat ketika kita bersikap defensif saat ditegur. Ada saat-saat ketika kita berusaha membuat dosa tampak lebih ringan dari kenyataannya. Bahkan, kita cenderung lebih cepat memaafkan diri sendiri daripada bertobat dengan sungguh. Masalah utama kita bukan karena kita terlalu serius terhadap dosa, melainkan justru karena kita tidak cukup serius. Kita gagal melihat betapa beratnya dosa dan betapa luas dampaknya—baik secara vertikal terhadap Allah maupun secara horizontal terhadap sesama.
Yang menakutkan adalah kita bisa menyebut diri sebagai pengikut Yesus Kristus, tetapi pada saat yang sama meremehkan dosa—hal yang justru membawa Yesus ke kayu salib. Seluruh kisah besar penebusan terjadi karena Allah tidak pernah menutup mata terhadap dosa yang begitu merusak dan telah menjangkiti setiap manusia. Bagi Allah, tidak ada penyakit yang lebih menghancurkan umat manusia selain dosa. Itulah sebabnya, segera setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Allah berjanji bahwa kuasa dosa ini suatu hari akan dikalahkan sepenuhnya (Kej. 3:15). Dosa begitu serius sehingga mendapat perhatian langsung dari Sang Pencipta dan Raja yang berdaulat.
Inilah alasan mengapa kisah Nadab dan Abihu—yang mempersembahkan api yang tidak diperintahkan Tuhan—harus membuat kita berhenti dan merenung (Im. 10:1–3). Api dari TUHAN keluar dan menghanguskan mereka hingga mati. Kisah ini bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyatakan kebenaran: dosa itu sungguh serius. Alkitab berkata dengan jelas: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 6:23).
Karena Allah memandang dosa dengan sangat serius, Ia juga mengambil langkah nyata untuk menyediakan Juruselamat. Anugerah hidup yang baru hanya dibutuhkan jika dosa memang sedemikian mematikan seperti yang Allah nyatakan. Pertanyaannya bagi kita hari ini sederhana, tetapi sangat penting: apakah kita juga memandang dosa dengan serius?
Injil mengundang kita untuk tidak menutup mata terhadap dosa, tetapi juga tidak putus asa karenanya. Kita dipanggil untuk bertobat dengan rendah hati dan hidup dalam syukur, karena Yesus telah menanggung keseriusan dosa kita, supaya kita menerima hidup yang baru di dalam Dia.
Refleksi
Bacalah Roma 3:9–20 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 8-10