MELIHAT HIDUP DARI LENSA INJIL
MAZMUR 133–139

 

Cara kita memandang perjalanan hidup tidak pernah netral. Karena itu, pandanglah hidup Anda selalu melalui lensa kasih karunia Injil.

 

Cara kita memandang perjalanan hidup kita tidak pernah benar-benar netral. Pengalaman hidup memang penting, tetapi yang lebih menentukan adalah bagaimana kita menafsirkan pengalaman tersebut.  Itulah sebabnya dua orang yang mengalami situasi yang sama dapat merespons dan merasakan pengalaman yang sangat berbeda. Yang membedakan bukan peristiwanya, tetapi cara mereka memaknainya.

 

Demikian juga ketika kita melihat kembali perjalanan hidup kita. Cara kita memahami berbagai situasi, tempat, hubungan, keberhasilan, maupun kegagalan yang membentuk kisah hidup kita tidak pernah netral. Kita selalu menggunakan suatu "lensa" untuk menafsirkan siapa diri kita, apa yang telah kita alami, di mana kita pernah berada, dan ke mana arah hidup kita.

 

Namun sering kali, ketika kita meninjau kembali hidup kita, kita melupakan fakta yang paling penting, yaitu keberadaan dan karya Allah. Dialah fakta utama yang memberi makna kepada setiap fakta lainnya dalam hidup ini. Jika Allah dikeluarkan dari cara kita memandang hidup, kita tidak akan pernah benar-benar memahami siapa diri kita atau mengapa hidup kita berjalan seperti sekarang.

 

Jika Anda adalah anak Allah, maka kasih karunia seharusnya menjadi lensa utama dalam menafsirkan hidup Anda. Anugerah Allah telah bekerja jauh sebelum Anda mengenal-Nya. Bahkan sebelum Anda memikirkan kasih karunia-Nya, Allah sudah lebih dahulu bekerja bagi Anda. Rencana anugerah-Nya telah ditetapkan sebelum dunia dijadikan. Penulis kisah hidup Anda telah menentukan bahwa cerita Anda bukan berakhir dalam kebinasaan, melainkan menjadi kisah tentang penebusan, pengampunan, pembaruan, pertumbuhan, kekuatan, dan kelepasan oleh anugerah-Nya. 

 

Di dalam Kristus, Anda telah menerima kasih yang tidak pernah habis, kasih yang kekal, dan kasih yang sama sekali tidak mungkin Anda peroleh melalui usaha sendiri. Dalam setiap keadaan hidup, baik yang Anda anggap baik maupun buruk, dalam setiap hubungan yang pernah Anda jalani, dan di setiap musim kehidupan, kasih dan anugerah Allah terus bekerja. Mungkin Anda belum selalu melihatnya, tetapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa Allah sedang berkarya. 

 

Karena itu, ketika Anda melihat kembali perjalanan hidup Anda, jangan berhenti pada keberhasilan, kegagalan, luka, atau pencapaian. Lihatlah hidup Anda melalui Injil. Lihatlah bagaimana Allah yang penuh anugerah setia memimpin, memelihara, membentuk, dan membawa Anda semakin serupa dengan Kristus. Tanpa anugerah itu, kita tidak memiliki pengharapan. Tetapi karena anugerah-Nya, kita memiliki segala sesuatu yang kita perlukan, baik untuk hidup saat ini maupun untuk selama-lamanya.

 

Mazmur 136 mengajak umat Allah mengenang seluruh perjalanan mereka, mulai dari kemenangan besar hingga pergumulan yang paling dalam. Namun yang terus diulang oleh pemazmur adalah satu kebenaran yang tidak berubah: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." Kalimat itu diulang dua puluh enam kali untuk mengingatkan bahwa kasih setia Tuhan adalah benang merah yang menjalin seluruh sejarah umat-Nya.

 

Begitu juga dengan hidup kita. Kita mungkin sedang berjalan di musim yang terang atau di lembah yang gelap, tetapi identitas kita tidak ditentukan oleh keadaan tersebut. Identitas kita dijamin oleh kasih setia Allah yang ada untuk selama-lamanya. Biarlah kebenaran ini membentuk cara Anda memandang masa lalu, menjalani masa kini, dan menyongsong masa depan sebagai anak-anak yang telah diselamatkan oleh anugerah melalui Kristus.

 

Refleksi
Bacalah 1 Tawarikh 16:28–34 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 133–139