HATI YANG MENYERUPAI HATI TUHAN
Ulangan 14–16
Kita melihat keindahan kelembutan hati Tuhan dalam belas kasihan-Nya kepada orang miskin.
Dalam keseharian kita, kita sering berjumpa dengan orang-orang yang hidup di jalanan. Di lampu merah, di pinggir jalan, di depan minimarket, di area parkir, atau di sudut-sudut kota, kita hampir selalu melihat mereka. Kadang mereka mengemis uang, kadang duduk dengan barang seadanya, kadang tidur di emperan toko, dan menunjukkan keputusasaan. Setiap kali bertemu dengan mereka, hati kita mungkin dipenuhi belas kasihan. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Terkadang kita melihat mereka sebagai gangguan bagi rencana dan aktivitas kita. Ada saat-saat ketika kehadiran mereka membuat kita tidak nyaman, tergesa-gesa, bahkan jengkel.
Masalah utama saya ternyata bukanlah keberadaan mereka, melainkan dinginnya dan kerasnya hati kita sendiri. Di sini kita perlu sadar bahwa hati kita belum sepenuhnya mencerminkan hati Tuhan—hati yang penuh kasih, sabar, dan berbelas kasihan.
Itulah sebabnya perintah yang Allah berikan kepada Israel melalui Musa ini membentuk kembali hati kita. Dalam Ulangan 15:7–11, tertulis: “Jika sekiranya ada padamu orang miskin, salah seorang saudaramu, di dalam salah satu tempatmu di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hatimu atau menutup tangan terhadap saudaramu yang miskin itu. Sebaliknya, engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa pun yang diperlukannya. Hati-hatilah, supaya jangan timbul pikiran dursila di dalam hatimu, demikian: Tahun ketujuh, tahun penghapusan hutang sudah dekat, lalu engkau memandang saudaramu yang miskin itu dengan mata yang jahat dan engkau tidak memberi apa-apa kepadanya, sehingga ia berseru kepada TUHAN tentang engkau, dan engkau menjadi berdosa. Engkau harus memberi dengan limpahnya dan janganlah dengan berat hati, sebab oleh karena hal itu TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu. Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.”
Perhatikan panggilan belas kasihan Allah kepada Israel:
Bayangkan apa yang akan terjadi jika kita hidup dengan belas kasihan seperti yang Allah kehendaki ini. Bayangkan bagaimana respons kita terhadap orang miskin akan berubah jika kita mengingat perkataan rasul Paulus dalam 2 Korintus 8:9: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”
Yesus, Sang Raja yang kaya dalam kemuliaan, rela menjadi miskin—mengosongkan diri-Nya, turun ke dunia, memikul dosa kita, dan mati di kayu salib—supaya kita yang miskin secara rohani diperkaya oleh anugerah-Nya. Dari salib, kita belajar bahwa belas kasihan bukan sekadar tindakan sosial, tetapi buah dari Injil yang mengubah hati.
Jika Kristus telah begitu murah hati kepada kita, bagaimana mungkin kita tetap menutup hati dan tangan bagi sesama? Injil memanggil kita untuk hidup sebagai orang-orang yang sudah menerima belas kasihan, sehingga kita pun menjadi saluran belas kasihan Tuhan bagi dunia. Hati yang telah disentuh oleh salib tidak akan sanggup hidup egois. Kasih karunia yang sejati selalu melahirkan belas kasihan yang nyata.
Refleksi
Bacalah Matius 25:31–40 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 14-16