ANUGERAH FIRMAN ALLAH
Ulangan 17–20
Kita tidak boleh pernah meremehkan betapa luar biasanya berkat yang kita terima karena Tuhan berkenan berbicara kepada kita.
Tidak butuh waktu lama dalam kisah Alkitab sebelum Allah mulai berbicara. Setelah menciptakan segala sesuatu dengan kuasa firman-Nya, Allah berbicara langsung kepada Adam dan Hawa (Kej. 1:27–28). Mereka adalah manusia yang sempurna di dunia yang sempurna, dengan relasi yang sempurna dengan Allah, namun mereka tetap sepenuhnya bergantung pada firman-Nya untuk memahami hidup, untuk menjadi seperti yang Ia rancang, dan untuk melakukan panggilan Tuhan bagi mereka.
Namun, damai sejahtera (shalom) itu hancur. Adam dan Hawa memilih untuk tidak taat pada firman Pencipta mereka. Mereka ingin mengambil kendali hidup dengan tangan mereka sendiri dan melangkah keluar dari batas yang telah Allah tetapkan. Sejak saat itu, manusia terus bergumul dengan kecenderungan yang sama: hidup tanpa bergantung pada firman Tuhan.
Jika Adam dan Hawa dalam keadaan sempurna saja sepenuhnya membutuhkan dan bergantung pada firman Tuhan, terlebih lagi bangsa Israel (dan kita hari ini). Mereka hidup di dunia yang penuh dengan kejahatan, di mana kebohongan tersebar di mana-mana. Mereka akan memasuki negeri di mana illah-illah palsu ada di setiap sudut, dan para ahli sihir, peramal, serta dukun akan berusaha menarik perhatian mereka. Mereka membutuhkan firman Tuhan yang benar, murni, dan dapat dipercaya untuk menembus semua suara yang menyesatkan, agar mereka tidak tertipu, tetapi hidup sesuai dengan panggilan Allah. Karena itu, merupakan berkat yang sangat besar ketika Allah berjanji untuk membangkitkan bukan hanya satu nabi, tetapi suatu rangkaian nabi demi nabi. Melalui mereka, kebenaran dan kehendak Allah dapat dinyatakan untuk menuntun, melindungi, dan mengoreksi mereka.
Dalam Ulangan 18:15–18, tertulis: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. Tepat seperti yang kamu minta dari TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Janganlah aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini janganlah kulihat lagi, supaya jangan aku mati. Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara-saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”
Betapa besar kasih Allah yang melindungi, menuntun, dan membentuk kita! Janji ini berarti umat Allah tidak akan pernah kekurangan firman Tuhan, siapapun mereka, dimanapun mereka berada, dan apa pun yang mereka hadapi. Ini bukan sekadar janji tentang nabi biasa. Ini adalah janji mesianik. Dalam terang Injil, kita melihat bahwa janji ini digenapi secara sempurna di dalam Kristus. Yesus adalah Firman Allah yang terakhir dan sempurna. Ia bukan hanya membawa firman Allah—Ia sendiri adalah Firman yang menjadi manusia.
Tanpa firman Tuhan, kita tidak tahu bagaimana hidup. Kita tidak tahu membedakan yang benar dan yang salah. Kita tidak memiliki hikmat untuk mengambil keputusan, tidak tahu bagaimana membangun relasi dengan sesama, dan tidak tahu ke mana harus mencari pengharapan. Tanpa firman Tuhan, hidup kita akan dipenuhi kebingungan dan suara-suara yang menyesatkan.
Tetapi Injil memberi kita pengharapan: Allah tidak membiarkan kita berjalan dalam kegelapan. Ia berbicara. Ia menyatakan diri-Nya. Ia mengaruniakan Firman-Nya kepada kita. Di dalam Kristus, kita tidak hanya menerima petunjuk hidup—kita menerima hidup itu sendiri. Firman-Nya bukan sekadar informasi; Firman-Nya adalah kehidupan bagi jiwa kita. Maka respons Injil adalah ini: Dengarkan Dia. Percayai Dia. Tunduklah pada Firman-Nya. Sebab di situlah kita menemukan terang, arah, dan keselamatan.
Refleksi
Bacalah Ibrani 1:1–2 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 17-20