DOA YANG RENDAH HATI
1 TAWARIKH 18–21

 

Tidak ada yang lebih mampu memberikan anugerah kepada orang lain selain mereka yang sadar bahwa dirinya sendiri sangat membutuhkannya. Karena itu, doa pengakuan yang lahir dari kerendahan hati sering kali menghasilkan doa syafaat yang penuh kasih bagi orang lain.

 

Yesus pernah menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang yang berdiri di Bait Allah dan menaikkan doa yang tampaknya sangat saleh (Luk. 18:9–14). Namun sebenarnya, itu bukanlah doa yang sejati. Doanya tidak berisi kerendahan hati, permohonan, ataupun kepedulian bagi orang lain. Orang Farisi itu pada dasarnya berkata kepada Tuhan bahwa ia tidak membutuhkan-Nya, seolah-olah ia sudah cukup benar dengan usahanya sendiri.

 

Sungguh mengherankan, sesuatu yang terlihat sangat rohani seperti doa bisa menjadi kebalikannya. Bentuknya mungkin benar, tetapi isinya kosong, dirampas oleh kesombongan dan kepentingan diri sendiri. Orang Farisi itu bukan hanya sombong, tetapi juga memandang rendah seorang pemungut cukai yang sedang bergumul. Memang, orang yang merasa dirinya benar sering kali sulit untuk bersabar, berbelas kasihan, dan bermurah hati kepada orang lain. Sebaliknya, ketika seseorang dengan tulus mengakui dosanya di hadapan Tuhan, hatinya akan dilembutkan. Dari sanalah muncul kepedulian, belas kasihan, dan doa syafaat bagi orang lain yang juga membutuhkan anugerah yang sama. Kesombongan tidak pernah menjadi tempat bertumbuhnya belas kasihan.

 

Hal ini terlihat jelas dalam kehidupan Daud. Perhatikan doanya dalam 1 Tawarikh 21:17: “Dan berkatalah Daud kepada Allah: ‘Bukankah aku ini yang menyuruh menghitung rakyat dan aku sendirilah yang telah berdosa dan yang melakukan kejahatan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Ya TUHAN, Allahku, biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku, tetapi janganlah tulah menimpa umat-Mu.’”

 

Daud telah jatuh dalam pencobaan dan berdosa dengan menghitung rakyatnya. Tuhan tidak menghendaki Daud menjadi sombong dan mengandalkan dirinya sendiri. Akibat dosanya, Tuhan mendatangkan hukuman atas Israel. Namun perhatikan, kesadaran Daud akan dosanya membuat ia bukan hanya mengaku, tetapi juga memohon belas kasihan Tuhan bagi umat-Nya.

 

Begitulah doa syafaat bekerja. Kesombongan membuat hati menjadi keras, bahkan mudah menghakimi orang lain. Sangat mudah untuk menghakimi ketika kita merasa diri kita benar. Tetapi ketika kita terus-menerus menyadari dan mengakui betapa kita membutuhkan anugerah Tuhan, yang menyelamatkan, mengampuni, dan mengubahkan, hati kita akan dilembutkan untuk membagikan anugerah itu kepada orang lain.

 

Dalam terang Injil, kita melihat Yesus, yang tidak berdosa dan tidak perlu mengakui pelanggaran apa pun, justru penuh belas kasihan terhadap orang berdosa. Ia bahkan rela mati untuk memberikan pengampunan bagi mereka. Hati-Nya yang penuh anugerah bagi orang berdosa seperti kita adalah pengharapan dunia ini. Sekalipun Ia tidak membutuhkan anugerah, Ia menjadi sumber anugerah bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu, doa yang sejati lahir dari hati yang hancur di hadapan Allah, dan dari situlah mengalir kasih yang nyata bagi sesama. Kiranya kita pun dipakai menjadi alat dari anugerah yang sama dalam kehidupan orang-orang di sekitar kita, yang sangat membutuhkan apa yang hanya anugerah Tuhan dapat berikan.

 

Refleksi
Bacalah Galatia 6:1–5 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 18-21