KEDAULATAN ALLAH MENDORONG PEMBERITAAN INJIL
YOHANES 14-16

 

Kedaulatan Allah tidak memadamkan kesaksian Injil. Sebaliknya, kedaulatan Allah mendorong kita untuk memberitakan Injil dengan kekuatan yang tidak dapat diberikan oleh apa pun.

 

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul tentang kedaulatan Allah adalah anggapan bahwa kedaulatan-Nya membuat pilihan dan pelayanan manusia menjadi tidak berarti. Jika Allah sudah memilih orang-orang yang akan percaya kepada-Nya, mengapa kita masih harus pergi dan memberitakan Injil? Bukankah mereka yang telah dipilih pasti akan diselamatkan, apa pun yang terjadi?

 

Namun, bukan demikian yang diajarkan Alkitab. Perhatikanlah dengan saksama perkataan Yesus dalam Yohanes 15:12–17: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yoh. 15:12–17).

 

Yohanes 15 merupakan bagian dari pesan-pesan terakhir Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum penyaliban-Nya. Perkataan Yesus dalam bagian ini bukan sekadar penjelasan, melainkan panggilan untuk bertindak. Ia memerintahkan mereka untuk saling mengasihi berdasarkan kasih yang terlebih dahulu mereka terima dari-Nya.

 

Yesus juga mengingatkan mereka yang disebut sebagai sahabat-sahabat-Nya, bukan karena mereka berhasil membuat diri mereka layak, melainkan karena anugerah-Nya yang telah mendamaikan mereka dengan Allah. Hubungan mereka dengan Kristus bukan dimulai dari usaha mereka untuk mendapatkan kasih-Nya, melainkan dari kasih dan anugerah Kristus yang terlebih dahulu menerima mereka.

 

Dalam pesan-pesan terakhir ini, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya tentang siapa mereka di dalam Dia dan untuk apa mereka dipanggil. Ia menunjukkan bahwa pilihan, tindakan, dan ketaatan mereka sungguh berarti. Namun, pada saat yang sama, Ia juga mengingatkan bahwa mereka adalah milik-Nya. Mereka menjadi milik Kristus bukan terutama karena mereka telah memilih Dia, melainkan karena Kristus terlebih dahulu memilih mereka. Lebih dari itu, Yesus memilih dan menetapkan mereka dengan suatu tujuan, yaitu supaya mereka pergi dan menghasilkan buah yang baik, baik melalui perubahan karakter maupun melalui pelayanan mereka.

 

Kedaulatan Allah tidak menghilangkan arti penting iman, ketaatan, dan pelayanan kita. Justru karena Allah berdaulat, kita memiliki alasan yang kuat untuk tetap percaya, mengasihi, dan melayani-Nya. Kita tidak sedang bekerja dalam ketidakpastian atau berjuang dengan kekuatan sendiri. Kita berada di dalam tangan Tuhan yang berdaulat, yang telah memanggil kita menjadi milik-Nya dan yang bekerja melalui kehidupan kita.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 67:1-7 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 14-16