KEBANGKITAN DAN HIDUP
YOHANES 11-13

 

Di tengah kematian dan dukacita, Yesus menyatakan, “Akulah kebangkitan dan hidup.”

 

Yohanes memberikan ruang yang cukup panjang dalam Injilnya untuk menceritakan kisah yang luar biasa ini. Namun, kita perlu melihat pada percakapan antara Yesus dan Marta setelah Yesus akhirnya tiba di tempat itu, empat hari setelah Lazarus meninggal. Bagi banyak orang Yahudi, hari keempat memiliki arti penting karena menandakan bahwa Lazarus benar-benar telah meninggal:

 

"Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." (Yoh. 11:17–27).

 

Perkataan pertama Marta kepada Yesus adalah sesuatu yang dapat kita harapkan dari seseorang yang telah menyaksikan sendiri kuasa Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Jawaban Yesus jelas sekaligus radikal: “Saudaramu akan bangkit.” Tidak ada keraguan atau ketidakjelasan dalam perkataan-Nya. Namun, Marta salah memahami maksud Yesus. Yesus sedang menyatakan sesuatu yang akan terjadi saat itu juga, tetapi Marta memahaminya sebagai janji tentang masa depan. Yesus bukan sedang berbicara tentang kebangkitan pada akhir zaman, melainkan tentang apa yang hendak dilakukan-Nya terhadap Lazarus saat itu. Anak Allah mengenal diri-Nya sendiri dan memahami kuasa yang ada pada-Nya.

 

Perkataan Yesus selanjutnya sungguh luar biasa. Ia menyatakan identitas-Nya sekaligus merangkum pengharapan yang terkandung dalam Injil: “Akulah kebangkitan dan hidup.” Kuasa kebangkitan dan pemberian hidup kekal berkaitan erat dengan Yesus. Karena itu, tepatlah ketika Ia berkata, “Akulah kebangkitan” dan “Akulah hidup.” Namun, Yesus belum selesai. Ia kemudian berkata, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”

 

Inilah Injil kasih karunia. Kita semua dilahirkan dalam keadaan mati secara rohani karena dosa, suatu kondisi yang tidak dapat kita lepaskan dengan kekuatan kita sendiri. Oleh kasih karunia-Nya, Yesus memberikan kehidupan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Sekalipun orang percaya tetap mengalami kematian jasmani, kita akan dibangkitkan kembali dan hidup bersama-Nya untuk selama-lamanya.

 

Refleksi
Bacalah 1 Korintus 15:4, 12-28 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 11-13