GAMBARAN KERAJAAN ALLAH
MATIUS 20-21
Yesus, Raja di atas segala raja, datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Inilah gambaran seperti apa kerajaan-Nya.
Ketika kita melihat dunia politik, hiburan, olahraga, atau dunia bisnis, kita bisa melihat dengan jelas bahwa budaya kita sangat terobsesi dengan kebesaran dan kesuksesan. Orang-orang yang menjadi idola bagi kita biasanya adalah mereka yang punya banyak kuasa, segudang pencapaian, tumpukan penghargaan, rumah-rumah mewah, koleksi barang mahal, atau kendaraan mewah. Kita senang menonton video yang membawa kita masuk ke kehidupan orang-orang seperti itu. Bagi kita, orang-orang hebat adalah mereka yang berhasil membangun kerajaan mereka sendiri, mereka yang sudah mencapai sesuatu, mendapatkan banyak hal, dan memiliki banyak orang yang melayani kepentingan mereka. Kita sering melihat pelantikan pemimpin bisnis, artis terkenal, juara olahraga, atau tokoh nasional, lalu dalam hati berkata, “Andai hidup saya bisa seperti itu.” Tetapi Raja di atas segala raja berbeda dari raja-raja dunia.
Tuhan, Pencipta dan Penguasa seluruh alam semesta, tidak datang untuk membangun kerajaan duniawi lalu duduk di atas takhta supaya dilayani. Sebaliknya, kedatangan-Nya menunjukkan kerendahan hati dan pelayanan yang luar biasa. Bayangkan pengalaman Yesus ketika hidup di dunia. Ia lahir dalam keadaan sederhana dan miskin. Ia mengalami ejekan dan penolakan. Ia diperlakukan tidak adil, bahkan mengalami kekerasan dan penderitaan. Pada akhirnya, Yesus disalibkan.
Namun, penderitaan di kayu salib bukanlah karena Yesus tidak mampu mempertahankan diri. Ia tidak sedang berjuang demi mempertahankan kuasa atau nama baik-Nya. Yesus menyerahkan hidup-Nya bukan demi mendapatkan kekuasaan atau ketenaran di dunia, tetapi demi keselamatan kekal setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kalau Yesus adalah Raja, mengapa Ia memilih jalan seperti itu? Karena kerajaan-Nya memang berbeda.
Dalam Matius 20, ibu dari anak-anak Zebedeus datang kepada Yesus dan meminta supaya kedua anaknya mendapatkan tempat yang istimewa dalam kerajaan-Nya. Ia ingin anak-anaknya memiliki posisi terhormat. satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri Yesus. Jawaban Yesus sangat berbeda dari cara dunia berpikir: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat. 20:22–28).
Di sinilah kita melihat sesuatu yang sangat penting tentang kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah kerajaan yang berbeda dari cara dunia berpikir. Dunia berkata, “Kalau kamu ingin menjadi besar, naiklah ke atas. Cari posisi. Cari pengakuan. Pastikan orang lain melihat pencapaianmu.” Tetapi Yesus berkata, “Kalau kamu ingin menjadi besar, belajarlah melayani.” Dunia mengukur kebesaran dari seberapa banyak orang yang melayani kita. Yesus menunjukkan kebesaran melalui kerelaan kita melayani orang lain.
Ia adalah Raja, tetapi Ia datang untuk melayani. Ia adalah Tuhan, tetapi Ia merendahkan diri. Ia layak menerima kemuliaan, tetapi Ia rela menderita. Ia tidak datang untuk mengambil hidup orang lain, tetapi memberikan hidup-Nya sendiri sebagai tebusan bagi banyak orang.
Karena itu, ketika kita melihat salib, kita melihat seperti apa sebenarnya kebesaran menurut kerajaan Allah. Dan karena kita telah menerima kasih karunia melalui pelayanan dan pengorbanan Kristus, hidup kita pun dipanggil untuk memiliki pola yang sama. Kita bisa melayani bukan untuk mendapatkan nilai di hadapan Tuhan, tetapi karena di dalam Kristus kita sudah menerima kasih karunia yang tidak layak kita terima.
Refleksi
Bacalah Filipi 2:1-8 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Matius 20-21