TUHAN KITA GEMBALA YANG BAIK
YEHEZKIEL 34–36
Betapa baiknya hidup kita tidak berada di bawah kendali gembala-gembala manusia yang dapat gagal, tetapi berada di bawah pemeliharaan Gembala yang baik, yang tidak pernah gagal.
Setelah menyampaikan teguran kepada para pemimpin Israel yang jahat, Yehezkiel membawa janji Allah kepada umat-Nya tentang seorang Gembala yang setia: “Oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan ALLAH terhadap mereka. Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan menjadi hakim di antara domba yang gemuk dengan domba yang kurus; oleh karena semua yang lemah kamu desak dengan lambungmu dan bahumu serta kamu tanduk dengan tandukmu, sehingga kamu menghalau mereka ke luar kandang, maka Aku akan menolong domba-domba-Ku, supaya mereka jangan lagi menjadi mangsa dan Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba. Aku akan mengangkat satu orang gembala atas mereka, yang akan menggembalakannya, yaitu Daud, hamba-Ku; dia akan menggembalakan mereka, dan menjadi gembalanya. Dan Aku, TUHAN, akan menjadi Allah mereka serta hamba-Ku Daud menjadi raja di tengah-tengah mereka. Aku, TUHAN, yang mengatakannya.” (Yeh. 34:20–24).
Sering kali, ketika umat Allah berada dalam keadaan yang sulit, masalah mereka menjadi semakin berat karena dipimpin oleh orang-orang yang jahat dan mementingkan diri sendiri. Namun, justru di tengah keadaan seperti itu, Allah memberikan janji kepada umat-Nya. Janji-janji tersebut mungkin belum sepenuhnya dipahami atau dirasakan oleh umat Allah pada saat itu. Tetapi pada akhirnya, janji itu digenapi dengan sempurna di dalam Yesus.
Perhatikan bagaimana Injil Matius dimulai: “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.” (Mat. 1:1). Yesus berasal dari garis keturunan Raja Daud. Semua janji Allah tentang kerajaan Daud yang tidak berkesudahan menemukan penggenapannya di dalam Yesus. Dan dalam Injil Yohanes, Yesus sendiri menyatakan bahwa Dialah Gembala yang baik: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11). Yesus adalah penggenapan sempurna dari janji tentang Gembala yang baik dari keturunan Daud. Pada akhirnya, itulah yang dibutuhkan umat Allah pada zaman dahulu, dan itulah yang kita butuhkan sekarang yaitu Gembala yang Sejati. Yesus, yang adalah sepenuhnya Allah dan yang sepenuhnya manusia, adalah Gembala itu.
Para pemimpin Israel telah gagal menjalankan tanggung jawab mereka. Mereka lebih mengasihi diri sendiri daripada mengasihi Allah dan umat-Nya. Tentu saja, umat Allah akan sangat diberkati jika mereka dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang takut akan Tuhan. Kita pun membutuhkan pemimpin yang baik dan saleh. Namun, karena dosa ada dalam diri manusia, kebutuhan kita jauh lebih besar daripada sekadar memiliki pemimpin manusia yang baik. Sebab, kita membutuhkan Gembala yang rela memberikan nyawa-Nya untuk menebus domba-domba-Nya. Dan Yesus adalah Gembala itu.
Ia bukan hanya memimpin kita. Ia memberikan hidup-Nya bagi kita. Ia tidak meninggalkan kita ketika kita tersesat. Ia tidak melarikan diri ketika bahaya datang. Ia datang untuk mencari, menyelamatkan, dan menebus domba-domba-Nya. Karena itu, bersukacitalah hari ini karena Yesus adalah Gembala kita. Ia telah menyerahkan nyawa-Nya supaya kita memperoleh kehidupan. Kita adalah domba-domba-Nya, dan kita berada dalam pemeliharaan-Nya untuk selama-lamanya.
Ketika kita tidak tahu harus berjalan ke mana, kita dapat mengikuti suara-Nya. Ketika kita lemah, kita dapat bersandar pada-Nya. Dan ketika kita takut, kita dapat mengingat bahwa hidup kita berada di tangan Gembala yang tidak pernah gagal.
Refleksi
Bacalah Yohanes 10:11–18 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 34-36