UNTUK KEMULIAAN TUHAN
1 TAWARIKH 22–24
Anugerah mengubahkan kita, dari orang yang hidup untuk kemuliaan diri sendiri menjadi orang yang bersukacita hidup untuk kemuliaan dan nama Pribadi lain, yaitu Tuhan.
Rasul Paulus berkata, “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor. 5:15). Di sinilah kita melihat pusat dari peperangan rohani yang terjadi dalam hidup kita.
Dosa membuat hidup kita menyempit, berpusat hanya pada keinginan, kebutuhan, dan perasaan kita sendiri. Memang benar, inti dari dosa adalah keegoisan. Kita sering menganggap keinginan dan perasaan kita lebih penting daripada keberadaan, kehendak, dan kemuliaan Tuhan. Kita mengabaikan Dia, melawan perintah-Nya, dan melangkahi batas-batas yang telah Ia tetapkan. Kita hidup seolah-olah kita adalah “raja kecil,” yang ingin berkuasa atas hidup sendiri, dan akhirnya berbenturan dengan “raja-raja kecil” lainnya. Coba pikirkan saat-saat ketika Anda marah. Berapa banyak dari kemarahan itu benar-benar berkaitan dengan kehendak atau kemuliaan Tuhan? Sering kali kita marah bukan karena hukum Tuhan dilanggar, tetapi karena keinginan dan perasaan kita yang terganggu.
Hanya anugerah Tuhan yang sanggup menyelamatkan dan mengubahkan hati kita, dari yang mencari kemuliaan diri menjadi yang mencari kemuliaan Tuhan. Itulah sebabnya Yesus datang. Ia menyelamatkan kita bukan hanya dari kejahatan di luar, tetapi juga dari perbudakan terhadap diri sendiri. Anugerah keselamatan membebaskan kita dari hidup yang berpusat pada diri dan mengarahkan kita untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan. Dan anugerah itu masih bekerja dalam hidup kita sampai hari ini.
Inilah yang terlihat dalam hati Daud. Ia memiliki kerinduan yang besar agar Bait Allah yang kelak dibangun oleh Salomo menjadi tempat yang menyatakan kemuliaan Tuhan, sebuah tanda nyata yang menunjukkan kebesaran-Nya. Setiap kali kita melihat seseorang yang hidup untuk memuliakan Tuhan, kita bisa yakin bahwa orang itu telah disentuh oleh anugerah Tuhan. Karena secara alami, manusia cenderung mencari kemuliaan diri. Dibutuhkan anugerah untuk mengubah hati sehingga hidup kita benar-benar diarahkan untuk kemuliaan Tuhan.
Perhatikan hati Daud dalam 1 Tawarikh 22:5: “Karena pikir Daud: ‘Salomo, anakku, masih muda dan kurang berpengalaman, dan rumah yang harus didirikannya bagi TUHAN haruslah luar biasa besarnya sehingga menjadi kenamaan dan termasyhur di segala negeri; sebab itu baiklah aku mengadakan persediaan baginya!’ Lalu Daud membuat sangat banyak persediaan sebelum ia mati.”
Daud tidak ingin namanya yang menjadi pusat perhatian. Ia ingin Bait Allah itu menyatakan kebesaran, kemasyhuran, dan kemuliaan Tuhan saja. Bahkan, ada kerinduan penginjilan dalam hatinya, ia ingin kemuliaan Tuhan dikenal bukan hanya oleh bangsa Israel, tetapi juga oleh bangsa-bangsa lain.
Walaupun kita tidak membangun Bait Allah secara fisik, sebenarnya kita juga dipanggil untuk memiliki kerinduan yang sama. Allah kita begitu mulia, melampaui segala yang dapat kita bayangkan, dan Ia layak menerima seluruh hidup kita sebagai kesaksian menyatakan kemuliaan-Nya. Dalam terang Injil, hidup kita bukan lagi tentang kita. Kristus telah mati dan bangkit bagi kita, supaya kita hidup bagi-Nya. Inilah undangan kasih karunia: meninggalkan pusat diri, dan menemukan sukacita sejati saat hidup kita dipakai untuk memberitakan dan memuliakan Allah.
Refleksi
Bacalah 2 Korintus 5:11–15 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 22-24