SEBERAPA BESAR ALLAH MENGASIHIMU?
YOHANES 17-19

 

Jika seseorang bertanya kepadamu, “Seberapa besar Allah mengasihimu?” Apa yang akan kamu katakan?

 

Ada sesuatu yang begitu dalam menyentuh hati kita ketika mendengar seseorang berkata, “Aku mengasihimu.” Kerinduan untuk dikasihi adalah sesuatu yang dimiliki setiap manusia. Tidak peduli siapa kita atau di mana kita tinggal, kita semua membutuhkan kasih. Kerinduan ini bukanlah sesuatu yang muncul secara kebetulan. Allah, Sang Pencipta, telah menanamkannya di dalam hati kita. Ia menciptakan kita dengan kerinduan untuk mengalami kasih, supaya kita hidup dalam hubungan yang penuh kasih dengan-Nya dan dengan sesama.

 

Namun, sejak dosa merusak kehidupan manusia, kerinduan untuk dikasihi juga sering disertai rasa takut. Kita bukan hanya ingin dikasihi, tetapi juga terus bertanya-tanya apakah orang yang mengatakan bahwa mereka mengasihi kita akan tetap mengasihi kita setelah mereka benar-benar mengenal siapa diri kita. Kita takut ketika orang lain mengetahui kelemahan, kegagalan, dan sisi terburuk dalam diri kita, kasih mereka akan berubah. Kita khawatir bahwa semakin seseorang mengenal kita, semakin besar kemungkinan ia akan kecewa dan meninggalkan kita.

 

Jika dalam hubungan dengan sesama manusia saja kita memiliki ketakutan seperti ini, terlebih lagi dalam hubungan kita dengan Allah. Seberapa besar sebenarnya Allah mengasihi kita? Apakah kasih-Nya memiliki batas? Apakah kasih-Nya benar-benar setia, sabar, dan tidak pernah berakhir? Mungkinkah suatu hari Allah membatalkan komitmen kasih-Nya kepada kita? Apakah Allah pernah menyesal karena telah memilih untuk mengasihi kita? Dan ketika kita kembali jatuh ke dalam dosa, apakah murka-Nya terhadap dosa dapat membuat-Nya berhenti mengasihi kita?

 

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat kita temukan dalam beberapa kalimat yang diucapkan Yesus melalui salah satu doa terakhir-Nya yang dicatat dalam Alkitab. Dalam Yohanes 17, Yesus sedang berdoa kepada Bapa bagi kesatuan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Di tengah doa tersebut, Yesus mengungkapkan sebuah kebenaran tentang kasih Allah yang seharusnya memberikan ketenangan dan damai sejahtera yang mendalam bagi hati kita. Yesus menyatakan bahwa Ia ada di dalam orang-orang percaya dan Bapa ada di dalam Dia. Kemudian, Ia berdoa: “... supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” (Yoh. 17:23).

 

Tidak ada pengalaman kasih manusia yang dapat sepenuhnya menggambarkan keindahan, kedalaman, dan keluasan kasih Allah. Perhatikan apa yang Yesus katakan. Bapa di surga mengasihi kita sebagaimana Ia mengasihi Anak-Nya sendiri, Tuhan Yesus Kristus. Sukacita yang dimiliki Bapa di dalam Anak-Nya juga menjadi bagian kita di dalam Kristus. Komitmen kekal Bapa kepada Anak-Nya menjadi jaminan kasih-Nya bagi kita. Kasih Bapa kepada Anak-Nya yang tidak mungkin terputus memberikan kepastian bahwa kasih-Nya kepada kita di dalam Kristus tidak akan pernah gagal.

 

Inilah keindahan Injil. Kepastian bahwa Allah mengasihi kita tidak didasarkan pada seberapa baik kita menjalani hidup, tetapi pada hubungan kita dengan Kristus, Anak yang dikasihi-Nya. Di dalam Kristus, kita menerima kasih yang tidak mungkin kita peroleh melalui usaha atau kelayakan diri sendiri.

 

Karena itu, kita tidak akan pernah benar-benar memahami besarnya kasih Allah jika kita hanya membandingkannya dengan kasih manusia. Kasih manusia dapat berubah, mengecewakan, bahkan berakhir. Namun, kasih Allah kepada umat-Nya di dalam Kristus memiliki dasar yang jauh lebih kokoh daripada apa pun yang ada di dunia ini.

 

Refleksi
Bacalah Ratapan 3:22-24 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 17-19