BUKAN HANYA PERUBAHAN PERILAKU
MATIUS 22-23

 

Tuhan tidak hanya ingin kita berubah dalam perilaku, tetapi Dia juga ingin hati kita menjadi milik-Nya dan hidup kita dipimpin oleh-Nya.

 

Ada seseorang yang mengalami masalah berat badan. Ia sudah mencoba berbagai cara untuk menurunkan berat badan, tetapi tidak berhasil mempertahankannya. Banyak orang mengalami hal yang sama. Mereka berusaha mengubah pola makan, berolahraga, dan membangun kebiasaan baru. Untuk sementara, semuanya mungkin berjalan dengan baik. Namun, pada akhirnya mereka kembali kepada kebiasaan lama. Mengapa hal itu terjadi? Karena masalah yang lebih dalam sering kali bukan hanya terletak pada perilaku, tetapi pada hati.

 

Terkadang kita hanya berusaha memperbaiki apa yang terlihat dari luar tanpa menyentuh apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati. Kita berusaha mengubah kebiasaan buruk, tetapi tidak bertanya: “Mengapa hati kita terus menginginkan hal tersebut?”

 

Dalam kehidupan rohani pun kita bisa melakukan hal yang sama. Kita mungkin berusaha menjadi orang yang lebih baik. Kita berusaha lebih rajin berdoa, membaca Alkitab, datang ke gereja, melayani, memberi, atau menghindari dosa-dosa tertentu. Semua itu baik. Namun, Tuhan tidak hanya menginginkan perubahan perilaku kita. Tuhan menginginkan hati kita.

 

Yesus menegur orang-orang Farisi dengan sangat keras karena mereka terlihat sangat religius dari luar, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan. Matius mencatat bagaimana Yesus mengecam mereka karena kesalehan mereka hanya terlihat di depan manusia. Mereka bangga dengan kehidupan keagamaan mereka, merasa diri benar, dan sangat memperhatikan aturan-aturan agama. Namun, di balik semua itu terdapat keserakahan, keegoisan, dan keinginan untuk memuaskan diri sendiri.

 

Tujuh kali Yesus berkata “Celakalah kamu” kepada mereka. Ini menunjukkan betapa seriusnya kondisi hati mereka: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.” (Mat. 23:25–26).

 

Perhatikan gambaran yang Yesus gunakan: cawan. Bayangkan sebuah cawan yang terlihat sangat bersih dari luar, tetapi bagian dalamnya kotor. Apakah cawan itu benar-benar bersih? Tentu tidak. Begitu juga kehidupan kita. Kita bisa terlihat baik di hadapan orang lain, tetapi Tuhan melihat jauh lebih dalam. Tuhan melihat hati.

 

Kita mungkin terlihat murah hati, tetapi di dalam hati masih dikuasai keserakahan. Kita mungkin terlihat rendah hati, tetapi sebenarnya sangat haus akan pengakuan. Kita mungkin terlihat melayani Tuhan, tetapi diam-diam sedang mencari pujian manusia. Inilah yang terjadi ketika kehidupan rohani hanya berfokus pada “membersihkan bagian luar cawan.” Kita memperbaiki perilaku, tetapi tidak membiarkan Injil mengubah hati. Masalahnya, perubahan perilaku tanpa perubahan hati pada akhirnya tidak akan bertahan.

 

Perilaku kita akan terus dipengaruhi oleh apa yang menguasai hati kita. Karena itu, Tuhan tidak hanya ingin kita menjadi orang yang kelihatan baik. Ia ingin hati kita menjadi milik-Nya dan berada di bawah pemerintahan-Nya. Kita membutuhkan lebih dari sekadar usaha untuk menjadi lebih baik. Kita membutuhkan anugerah Kristus yang mengubah hati. Hari ini, akuilah kebutuhan kita akan anugerah Tuhan yang sanggup mengubah hati.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 51:1-12 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Matius 22-23