BATASAN YANG MEMELIHARA KEHIDUPAN
Imamat 16–18

 

Hukum-hukum Allah bukan hanya untuk kemuliaan-Nya, tetapi juga untuk kebaikan dan pertumbuhan hidup kita.

 

Kita hidup di tengah budaya yang semakin kehilangan arah, khususnya dalam hal seksualitas. Di mana pun dan kapan pun, cara pandang tentang seksualitas yang dilepaskan dari kebenaran Allah tidak pernah membawa manusia kepada hidup yang baik. Filosofi sosial tentang kelenturan gender yang hanya didasarkan pada preferensi pribadi menuntut penyangkalan atas realitas biologis dan relasional yang Allah tetapkan. Di tengah kondisi ini, kita perlu diingatkan kembali akan kebijaksanaan dan kekudusan hukum-hukum Allah tentang seksualitas.

 

Kita patut bersyukur karena Allah tidak diam. Ia berbicara dengan jelas dan mudah diingat mengenai aspek penting dari hasrat dan fungsi manusia, bukan untuk menindas, melainkan karena Ia mengasihi kita. Dalam Imamat 18:5 membuka rangkaian hukum tentang seksualitas dengan pernyataan yang sangat penting: “Sesungguhnya, kamu harus tetap berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya; Akulah TUHAN.”

 

Ayat ini mengingatkan kita pada dua kebenaran penting. Pertama, hukum Allah tidak menghalangi kita untuk menikmati hidup yang baik, justru sebaliknya, hukum Allah adalah jalur tempat kehidupan yang sejati berjalan. “Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya” berarti hidup yang sejati ditemukan ketika kita dengan rendah hati menundukkan hidup kita pada hukum-hukum Allah yang bijaksana dan kudus. Hidup yang dibentuk oleh firman Tuhan adalah hidup yang diarahkan kepada kebaikan sejati.

 

Kedua, ayat ini menegaskan bahwa Allah bukan Allah yang menentang seks atau kesenangan. Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Allah tidak memusuhi kenikmatan. Ia menciptakan dunia yang penuh dengan keindahan dan kesenangan. Ia juga menciptakan kita dengan kemampuan untuk menikmati—melalui mata, telinga, penciuman, dan seluruh indra kita agar kita dapat menikmati ciptaan yang Ia sediakan. Namun sebagai Pencipta yang mahatahu, Allah tahu bahwa kesenangan membutuhkan batasan. Pendekatan “apa pun yang aku mau, sebanyak yang aku mau, kapan pun aku mau, dengan siapa pun aku mau” selalu berakhir dengan kerusakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Hidup yang dikuasai oleh cinta akan kenikmatan tanpa kendali pada akhirnya membawa kehancuran.

 

Allah rindu kita menikmati kesenangan seksual, dan Ia rindu kehidupan seksual kita bertumbuh dengan sehat. Namun Ia tahu bahwa hal itu hanya mungkin terjadi ketika keinginan seksual kita ditundukkan kepada perintah-Nya yang penuh hikmat.

 

Imamat 18:5 juga mengingatkan satu kebenaran tentang hati manusia. Sebagai orang berdosa yang lemah dan mudah menyimpang, kita tidak memiliki kekuatan dalam diri kita sendiri untuk lebih mengasihi Allah dan hukum-Nya daripada mengasihi pemuasan keinginan seksual. Karena itu, pengharapan kita untuk hidup dengan benar dalam hal ini hanya ada pada Allah yang mengasihi kita dengan kasih karunia-Nya dan memberi kita kuasa untuk mengingini dan melakukan apa yang benar di mata-Nya.

 

Dan di sinilah Injil menjadi terang yang menuntun kita. Allah menemui kita dengan kasih karunia-Nya dan menunjuk kita kepada Yesus Kristus. Di dalam Yesus, kita bukan hanya diperdamaikan dengan Allah, tetapi juga dikaruniai Roh Kudus yang menuntun, menegur, dan memampukan kita untuk menginginkan dan melakukan apa yang benar di hadapan-Nya. Melalui Kristus, kita diajar menikmati sukacita hidup yang sejati yaitu hidup yang dijalani sesuai dengan rancangan Sang Pencipta. Ingatkan hati Anda bahwa di dalam ketaatan yang lahir dari Injil, kita tidak kehilangan hidup, justru menemukannya.

 

Refleksi
Bacalah Amsal 7:1–27  untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 16-18