APA DAN SIAPA YANG ANDA SEMBAH?
1 TAWARIKH 25–27
Tidak ada hal yang lebih penting dalam hidup manusia selain penyembahan. Apa atau siapa yang kita sembah, itulah yang akan mengarahkan seluruh hidup kita.
Seorang pendeta pernah mendampingi seorang pria yang sangat berhasil dalam karirnya. Namun, dibalik itu, pria itu adalah pribadi yang keras, mudah marah, tidak sabar, dan sulit menerima orang lain. Di dunia kerja, ia sangat dihargai, bahkan banyak perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Tetapi kesuksesan itu harus dibayar mahal: pernikahannya hancur, dan hubungannya dengan anak-anaknya hampir sepenuhnya terputus. Ia mencapai semua itu dengan cara menekan, memaksa, dan mengendalikan orang lain, hingga akhirnya ia justru hidup dalam kesepian.
Yang lebih berat lagi, ia tidak merasa bersalah. Ia berpikir bahwa semua yang ia lakukan adalah demi keluarganya, dan justru menganggap dirinya sebagai korban. Pria ini ingin semuanya berubah, tetapi tidak mau mengubah dirinya sendiri. Sampai suatu saat, pendeta itu mencoba cara yang berbeda yaitu membacakan firman Tuhan tentang penyembahan kepadanya. Ia merasa terganggu, tetapi suatu hari dengan mata yang penuh air mata, ia menyadari sesuatu yang sangat dalam: selama ini, dirinya sendirilah yang ia jadikan “allah”.
Ia menyadari kebenaran itu, bahwa semua kehancuran dalam hidupnya berawal dari penyembahan yang salah. Ia menjadikan dirinya sebagai pusat, seolah-olah dialah yang berkuasa, dan menuntut orang lain untuk tunduk kepadanya. Perubahan dalam hidupnya harus dimulai dari hubungannya dengan Tuhan terlebih dahulu, baru kemudian memulihkan hubungannya dengan sesama.
Sering kali kita lupa bahwa kita bukan hanya dipanggil untuk menyembah, tetapi memang diciptakan sebagai penyembah. Penyembahan bukan sekadar aktivitas rohani, melainkan bagian dari siapa diri kita dan identitas kita. Segala sesuatu yang kita lakukan setiap hari sebenarnya menunjukkan siapa atau apa yang kita sembah.
Karena itu, kita bisa belajar dari semangat Daud dalam 1 Tawarikh 25–27. Ia memakai segala yang ia miliki, kuasa, pengaruh, dan karunia, untuk mempersiapkan pembangunan bait Allah bagi kemuliaan Tuhan. Ia ingin agar bait itu menjadi tanda nyata bahwa Allah benar-benar ada dan hadir di tengah umat-Nya. Ia rindu supaya bangsa Israel terus ingat bahwa semua yang mereka miliki berasal dari tangan Tuhan. Tidak ada yang lebih penting dalam hidup ini selain menyembah Allah. Walaupun Daud tidak membangun bait itu sendiri, ia menyiapkan semuanya dengan sungguh-sungguh, supaya rumah Tuhan menjadi kesaksian yang hidup tentang kemuliaan-Nya dan panggilan untuk terus menyembah Dia.
Kita pun dipanggil untuk memiliki hati yang sama, bukan membangun bangunan fisik, tetapi hidup dengan kesadaran akan kehadiran Tuhan setiap hari. Kita perlu terus mengingat bahwa tidak ada yang lebih penting dalam hidup ini selain menyembah Dia.
Namun kita juga perlu jujur bahwa menyembah Tuhan bukanlah hal yang alami bagi hati kita yang berdosa. Hati kita mudah beralih kepada hal lain, bahkan kepada diri sendiri. Karena itu, jika hidup kita ingin dibentuk oleh penyembahan yang benar, kita membutuhkan anugerah Tuhan. Hanya oleh kasih karunia-Nya, hati kita diselamatkan dan diarahkan kembali kepada-Nya.
Dalam Injil, kita melihat puncak anugerah itu: Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan kita dari penyembahan yang salah—terutama penyembahan kepada diri sendiri. Melalui salib, Ia menggantikan pusat hidup kita, sehingga kita tidak lagi hidup bagi diri sendiri, tetapi bagi Dia. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah kita menyembah tetapi siapa yang kita sembah. Dan hanya di dalam Kristus, penyembahan kita dipulihkan kepada Allah yang benar.
Refleksi
Bacalah Yohanes 4:16-26 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 25-27