AWAL YANG BARU
YEHEZKIEL 40–42

 

Setiap hari, mari kita bersyukur atas Injil yang selalu memberi kita kesempatan untuk memulai kembali dan menjalani hidup yang baru.

 

Injil membawa pesan tentang kesempatan untuk memulai kembali dan menjalani awal yang baru. Inilah pengharapan kita ketika kita telah melanggar batas-batas yang Tuhan tetapkan dan harus menanggung akibat dari ketidaktaatan kita. Inilah yang kita rindukan ketika pernikahan kita berada dalam keadaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Inilah yang menjadi kerinduan orang tua ketika anak-anak mereka menjauh dari iman. Inilah pengharapan seorang pendeta ketika gerejanya seolah-olah tidak mengalami pertumbuhan atau perubahan. Inilah yang kita harapkan ketika konflik menghancurkan hubungan dalam keluarga. Inilah yang kita doakan ketika kita kembali jatuh ke dalam pencobaan. Dan inilah yang kita harapkan ketika kita meminta pengampunan dari seseorang yang telah kita sakiti.

 

Kita semua pernah mengalami saat-saat ketika kita sangat ingin mendapatkan kesempatan untuk memulai kembali dan menjalani hidup yang baru. Terkadang kerusakan yang terjadi terasa terlalu besar untuk diperbaiki. Terkadang kita merasa seperti sedang berada di lembah yang begitu panjang dan gelap, sampai-sampai kita berpikir bahwa semua ini tidak akan pernah berakhir. Keputusasaan dan rasa kehilangan harapan datang menyelimuti kita seperti awan gelap. Musuh berbisik di telinga kita, “Sekarang, di mana Tuhanmu?” Kita pun mulai tergoda untuk menyerah.

 

Namun, untuk memberi kita pengharapan dan membungkam serangan musuh, Tuhan memenuhi firman-Nya dengan kisah-kisah tentang orang-orang yang mendapatkan kesempatan untuk memulai kembali dan mengalami awal yang baru. Salah satu kisah tersebut dapat kita temukan dalam Yehezkiel 40–42.

 

Empat belas tahun setelah sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan terjadi (Yerusalem dan Bait Suci dihancurkan) Tuhan memberikan penglihatan kepada Yehezkiel tentang pembangunan kembali bait Allah. Bait Suci merupakan pusat kehidupan moral dan rohani bangsa itu. Selama Yerusalem masih berdiri dan Bait Suci masih ada, umat Tuhan memiliki pengharapan. Tetapi sekarang Bait Suci telah hancur, dan umat Tuhan berada dalam pembuangan. Semuanya terlihat seperti sudah berakhir. Seolah-olah Tuhan telah meninggalkan umat-Nya dan Israel tidak akan ada lagi. Mungkin mereka berpikir, “Inilah akhirnya.”

 

Namun, empat belas tahun setelah bencana itu, Tuhan datang kepada Yehezkiel dengan sebuah penglihatan yang sangat terperinci tentang pembangunan kembali Bait Suci. Di dalam penglihatan itu ada sebuah janji yang indah: Tuhan memberikan kesempatan untuk memulai kembali dan menjalani awal yang baru bagi umat-Nya. Mereka mendapatkan kesempatan itu bukan karena mereka berhasil membuat diri mereka layak di hadapan Tuhan, tetapi karena Tuhan sabar, penuh kasih, dan penuh belas kasihan. Tuhan berkenan mengampuni anak-anak-Nya. Dia senang memulihkan sesuatu yang telah rusak dan menjadikannya baru kembali. Tuhan tidak akan membiarkan pemberontakan Israel menggagalkan rencana penebusan yang telah Dia tetapkan sejak sebelum dunia dijadikan.

 

Salib Yesus Kristus dan kubur yang kosong menjadi tanda bagi kita bahwa dosa dan hukuman bukanlah akhir dari cerita hidup kita. Dalam kasih karunia-Nya, Tuhan datang kepada kita dengan pengampunan. Dia mendamaikan kita kembali dengan diri-Nya, lalu Dia terus bekerja untuk memperbarui hidup kita. Karena itu, ketika kita melihat sesuatu yang rusak dalam hidup kita, ingatlah bahwa Tuhan adalah Tuhan yang memberikan kesempatan untuk memulai kembali dan menjalani awal yang baru.

 

Karena kasih karunia-Nya, apa yang bagi kita terlihat sudah tidak mungkin diperbaiki, masih dapat Tuhan pulihkan dan hidupkan kembali. Di dalam Kristus, kegagalan bukanlah akhir. Dosa bukanlah akhir. Kerusakan bukanlah akhir. Tuhan masih bekerja untuk memperbarui dan memulihkan kita.

 

Refleksi
Bacalah Lukas 19:1-10 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 40-42