TAKUT AKAN TUHAN
AMSAL 1–4

 

Tidak seorang pun dapat menjadi bijaksana dengan mengandalkan dirinya sendiri, karena hikmat sejati selalu dimulai dengan takut akan Tuhan.

 

Jika Anda bertanya kepada banyak orang apakah mereka menganggap diri mereka bijaksana, kemungkinan besar mereka akan menjawab, "Tentu saja." Namun, hanya sedikit orang yang mau berkata, "Saya adalah orang bodoh. Saya telah membuat banyak keputusan yang salah dan hidup dalam kebodohan." Padahal, Alkitab mengajarkan bahwa pada dasarnya kita semua lahir dengan hati yang cenderung bodoh. Karena itu, hikmat sejati bukanlah sesuatu yang muncul dari dalam diri kita, melainkan sesuatu yang harus kita terima dari Allah.

 

Alkitab mengajarkan bahwa hikmat sejati adalah harta yang langka, dan hanya dapat ditemukan di satu tempat. Itulah sebabnya Amsal berkata bahwa "kebodohan melekat pada hati orang muda" (Ams. 22:15). Artinya, manusia secara alami tidak memiliki hikmat yang sejati. Kita membutuhkan pertolongan Allah agar dapat hidup sesuai dengan kehendak-Nya. 

 

Perhatikan tujuan kitab Amsal yang dituliskan dalam Amsal 1:2–7: “Untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda– baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan-- untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” (Ams. 1:2–7).

 

Hikmat tidak bisa dibeli dengan uang, diraih melalui gelar pendidikan, atau diperoleh hanya karena pengalaman hidup. Hikmat sejati hanya ditemukan ketika seseorang hidup dalam takut akan TUHAN. Takut akan TUHAN bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat kita menjauh dari Allah, melainkan rasa hormat, kagum, dan tunduk kepada-Nya sehingga kita rindu mendengarkan firman-Nya dan hidup dalam ketaatan. Alkitab menjelaskan bahwa orang bodoh adalah orang yang menolak Allah. Mazmur 14:1 berkata, "Orang bebal berkata dalam hatinya: 'Tidak ada Allah.'" Kebodohan terbesar bukanlah kurangnya pengetahuan, melainkan hidup tanpa takut akan Tuhan.

 

Namun Injil menyatakan sesuatu yang jauh lebih dalam. Masalah utama manusia bukan sekadar kurang hikmat, melainkan hati yang telah rusak oleh dosa. Karena itu, kita tidak hanya membutuhkan nasihat yang baik, tetapi juga hati yang baru. Kita membutuhkan Juruselamat. Kabar baiknya, Yesus Kristus datang bukan hanya untuk mengajar kita bagaimana hidup dengan bijaksana, tetapi untuk menyelamatkan kita dari kebodohan dosa. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus menebus kita, memperbarui hati kita oleh Roh Kudus, dan memampukan kita untuk mulai hidup dalam takut akan TUHAN. Hikmat sejati adalah buah dari hubungan yang telah dipulihkan dengan Allah melalui Injil.

 

Karena itu, ketika kita membutuhkan hikmat untuk mengambil keputusan, menjalani pekerjaan, membangun keluarga, atau menghadapi pergumulan hidup, kita tidak pertama-tama mengandalkan kecerdasan atau pengalaman kita sendiri. Kita datang kepada Allah dengan kerendahan hati, mengakui bahwa tanpa Dia kita mudah tersesat. Allah berkenan memberikan hikmat kepada setiap orang yang mencari-Nya dengan iman.

 

Hari ini, datanglah kepada Kristus, Sang Hikmat Allah, yang sanggup mengubahkan hati orang berdosa menjadi hati yang takut akan TUHAN. Di dalam Dia, kita bukan hanya menerima hikmat untuk menjalani hidup, tetapi juga anugerah untuk hidup bagi kemuliaan Allah.

 

Refleksi
Bacalah Yakobus 3:13–18 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 1-4