PERSEMBAHKAN YANG TERBAIK
Ulangan 24–27
Kita seharusnya tidak pernah memberikan kepada Tuhan apa yang tersisa, tetapi mempersembahkan kepada-Nya yang pertama dan yang terbaik dari apa yang telah Ia berikan.
Ulangan 26:1–2, tertulis: "Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, dan engkau telah mendudukinya dan diam di sana, maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana.” Untuk memahami sepenuhnya pentingnya Ulangan 26:1–2, kita harus melihat kembali kepada kisah penciptaan.
Kejadian 1 dan 2 memberitahu kita bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Sebagai Pencipta, Ia adalah pemilik dari segala sesuatu. Bayangkan seorang pelukis yang menyelesaikan sebuah lukisan di studionya. Lukisan itu menjadi miliknya, karena ia yang membuatnya. Demikian juga dengan Allah. Karena Ia adalah Pencipta, maka dunia ini dan segala isinya adalah milik-Nya. Bahkan hidup kita pun berasal dari-Nya.
Sebagai Pencipta segala sesuatu, Allah bukan hanya memiliki segala sesuatu, tetapi Ia juga menentukan tujuan dari segala sesuatu. Jika Anda duduk untuk menjahit sebuah pakaian, Anda tidak mulai tanpa arah, berharap jahitan itu akan menjadi sesuatu dengan sendirinya. Tidak. Anda mulai dengan tujuan yang jelas. Setiap jahitan dibuat untuk mencapai tujuan tersebut. Demikian juga Allah bukan hanya memiliki segala sesuatu, tetapi Ia juga memiliki tujuan untuk segala sesuatu yang telah Ia ciptakan.
Jadi, ketika Allah meminta umat-Nya untuk memberikan hasil pertama dari panen mereka, Ia bukan meminta mereka mengambil sesuatu yang milik mereka dan memberikannya kepada-Nya. Ia meminta mereka mengembalikan sebagian dari apa yang sebenarnya sudah menjadi milik-Nya. Tidak ada yang kita benar-benar miliki untuk digunakan sesuka hati. Semuanya milik Allah, dan harus dikelola sesuai dengan kehendak-Nya.
Ini penting untuk dipahami: Allah tidak menginginkan apa yang tersisa setelah kita memuaskan diri kita sendiri dengan hasil kerja kita. Allah ingin kita memberikan persembahan kepada-Nya terlebih dahulu. Ketika kita melakukan itu, kita mengakui bahwa semua yang kita miliki dan semua yang kita adalah milik-Nya, untuk dipakai sesuai dengan kehendak-Nya. Intinya memberikan persembahan kepada Tuhan adalah pengakuan bahwa hidup kita sepenuhnya milik-Nya.
Tuhan juga sedang melindungi umat-Nya dari bahaya penyembahan terhadap harta dan kepemilikan. Ia tahu bahwa mengejar dan mempertahankan hal-hal materi dapat dengan mudah menguasai hati manusia. Harta dapat membentuk cara kita hidup dan menentukan apa yang kita anggap paling berharga. Ada kasih karunia dalam perintah untuk mempersembahkan hasil pertama kepada Allah. Allah sedang menyelamatkan kita dari diri kita sendiri, supaya kita dapat mengalami sukacita menyembah Sang Pencipta, bukan hidup terikat kepada ciptaan.
Inilah juga gambaran Injil. Kita tidak hanya memberikan sesuatu kepada Tuhan—Tuhan terlebih dahulu memberikan yang terbaik bagi kita. Ia memberikan Anak-Nya sendiri bagi keselamatan kita. Di dalam Kristus kita belajar bahwa hidup, waktu, tenaga, dan segala berkat kita berasal dari kasih karunia Allah. Ia menciptakan kita. Kita milik-Nya. Di dalam Dia, kehidupan yang sejati ditemukan. Jadi, persembahkanlah kepada-Nya yang pertama dan yang terbaik.
Refleksi
Bacalah Kejadian 4:1–17 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 24–27