ANUGERAH PERHENTIAN DARI ALLAH
Imamat 22–23

 

Hari Sabat bukan sekadar kewajiban rohani; Sabat adalah hadiah anugerah dari Allah yang mengenal kita dan mengasihi kita.

 

Kita sering tergoda untuk hidup melampaui batas yang Tuhan tetapkan. Kita tergoda bekerja lebih keras dan lebih lama, mengejar pencapaian, pengalaman, dan keberhasilan. Kita juga mudah menilai hidup dari seberapa banyak yang sudah kita capai atau alami. Tanpa sadar, kita bisa menguras diri—terus bekerja untuk mendapatkan sesuatu, lalu terus bekerja lagi untuk mempertahankannya.

 

Padahal, tidak ada manusia yang tanpa batas. Tuhan menciptakan kita dengan batasan: waktu, tenaga, hikmat, bahkan kemampuan rohani kita pun terbatas. Coba pikirkan soal waktu. Kita tidak akan pernah punya sepuluh hari dalam seminggu atau tiga puluh jam dalam sehari. Kita harus hidup di dalam batas waktu yang Tuhan tetapkan. Artinya, ketika satu hal dalam hidup kita mengambil semakin banyak waktu, hal itu pasti akan mengorbankan area lain. Jika kita bekerja delapan puluh jam seminggu, cepat atau lambat kehidupan keluarga dan kehidupan rohani akan tergerus.

 

Jika satu hal dalam hidup kita menuntut semakin banyak waktu, maka hal itu akan menggerogoti aspek lain dalam hidup kita—keluarga, pelayanan, kesehatan, dan pertumbuhan rohani. Demikian juga dengan tenaga: tidak ada seorang pun yang memiliki energi tanpa batas. Mengabaikan kebutuhan tubuh untuk beristirahat bukanlah hal yang bijak. Hikmat pun membutuhkan waktu untuk bertumbuh; kita perlu berhenti, merenung, dan belajar agar tidak hidup dalam kesombongan seolah-olah kita mengetahui segalanya.

 

Karena Tuhan tahu batas-batas yang Ia tetapkan bagi kita, Ia berkata: “Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh ada Sabat, hari perhentian penuh, suatu pertemuan kudus; janganlah melakukan sesuatu pekerjaan; itulah Sabat bagi TUHAN di segala tempat kediamanmu.” (Im. 23:3). Tuhan memanggil kita untuk berhenti satu hari setiap minggu—bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi berhenti dan kembali kepada-Nya.

 

Bagi sebagian orang, berhenti itu sulit—karena identitas, makna hidup, dan rasa berharga mereka dilekatkan pada kesibukan tanpa henti. Namun Tuhan berkata, “Kamu perlu satu hari tanpa bekerja.” Sabat adalah anugerah, bukan beban. Ini adalah undangan Allah untuk beristirahat dalam hadirat-Nya, memulihkan jiwa dan tubuh, serta mengingat siapa kita di hadapan-Nya. Di hari Sabat, kita diajak berkumpul untuk beribadah, mengingat identitas kita sebagai anak-anak Allah, dan merayakan kasih karunia yang telah kita terima. “Itulah Sabat bagi TUHAN.” Ini berarti hidup kita bukan milik kita sendiri. Kita tidak dimiliki oleh harta, prestasi, atau kesuksesan. Kita adalah milik Tuhan. Oleh anugerah, Ia telah menjadikan kita milik-Nya, dan di dalam Dia kita menemukan sukacita sejati.

 

Dalam terang Injil, Sabat menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar: perhentian sejati di dalam Yesus Kristus. Di kayu salib, Kristus telah menyelesaikan pekerjaan keselamatan yang sempurna. Kita tidak perlu lagi berusaha membuktikan diri atau mencari pembenaran melalui kerja keras dan pencapaian. Di dalam Kristus, kita menerima perhentian bagi jiwa kita. Setiap Sabat mengingatkan kita akan perhentian kekal yang hanya dapat kita temukan di dalam Yesus, Sang Penebus dan Pengganti kita. Sabat mengajar kita untuk berhenti dari usaha kita sendiri dan bersandar sepenuhnya pada kasih karunia-Nya. Di sanalah kita mengalami kelegaan, pemulihan, dan hidup yang sejati.

 

Refleksi
Bacalah Ibrani 4:1–13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 22-23