PANGGILAN UNTUK HIDUP KUDUS
Imamat 19–21
Tidak ada tujuan hidup yang lebih tinggi dan lebih mulia selain menerima panggilan Allah untuk hidup kudus, sama seperti Dia juga kudus.
Walaupun kitab Imamat penuh dengan hikmat dan pengajaran dari Allah, banyak orang merasa kitab ini sulit dibaca. Tidak sedikit yang mengaku bahwa saat mengikuti rencana baca Alkitab setahun, kita cenderung melewati Imamat demi sampai ke bagian yang dianggap “lebih menarik” atau lebih relevan dan praktis. Sebenarnya, ketika kita meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkannya dengan sungguh-sungguh, kita akan menemukan betapa dalamnya kasih dan maksud Allah di dalam kitab ini. Kita diajak untuk semakin mengenal dan mengasihi Tuhan yang menyatakan diri-Nya melalui firman-Nya.
Perhatikan firman Tuhan dalam Imamat 20:26: “Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain supaya kamu menjadi milik-Ku.”
Ayat ini menegaskan panggilan Allah bagi umat-Nya. Mengasihi Allah berarti hidup untuk sesuatu yang jauh lebih besar daripada kenyamanan, kesenangan, atau kemudahan sesaat. Allah memanggil kita untuk hidup bagi sesuatu yang jauh lebih bermakna daripada definisi kebahagiaan versi kita sendiri. Ia memanggil kita untuk hidup bagi sesuatu yang melampaui kekayaan materi, kekuasaan, kendali atas hidup, atau pengakuan dan popularitas. Ia memanggil kita untuk menyerahkan setiap keinginan, dalam setiap situasi hidup, kepada kehendak-Nya yang kudus—Dia yang menciptakan kita dan menjadikan kita milik-Nya.
Panggilan untuk hidup kudus mendorong kita untuk terus bertanya dalam setiap aspek hidup: “Apa kehendak Allah bagiku saat ini? Pikiran, keinginan, atau respons seperti apa yang berkenan kepada Tuhan?” Baik dalam pelayanan, relasi, pekerjaan, maupun pergumulan pribadi, kita diajak untuk hidup selaras dengan kehendak Allah.
Ayat ini juga dengan jelas menunjukkan bahwa kekudusan bukan pertama-tama soal apa yang kita lakukan sebagai anak-anak Allah, melainkan tentang apa yang telah Allah lakukan. Perhatikan baik-baik kalimat ini: “Kuduslah kamu bagi-Ku … supaya kamu menjadi milik-Ku.” Dalam kedaulatan dan kasih karunia-Nya, Allah memisahkan umat-Nya dari dosa dan dunia, menjadikan mereka kepunyaan-Nya sendiri, dengan tujuan hidup yang baru. Kekudusan berarti dipisahkan oleh Allah. Itu berarti kita tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri, tetapi bagi Dia yang telah menebus kita. Dan itu berarti kita menjalani seluruh hidup kita seolah-olah kita benar-benar percaya bahwa kita telah dipisahkan oleh Allah untuk tujuan dan kemuliaan-Nya. Menjadi kudus berarti hidup dalam terang pilihan Allah yang telah menjadikan kita milik-Nya.
Perhatikan apa yang tertulis dalam Perjanjian Baru: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.” (Tit. 2:11–14).
Inilah Injil: kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus bukan hanya menyelamatkan kita, tetapi juga membentuk dan menguduskan hidup kita. Kristus menyerahkan diri-Nya supaya kita ditebus, dikuduskan, dan dijadikan umat kepunyaan Allah, yang hidup untuk memuliakan Dia. Kiranya kita hidup sebagai umat milik Allah, yang dipulihkan oleh Injil, dan rindu memuliakan Dia dalam seluruh hidup kita.
Refleksi
Bacalah Titus 2:11–14 & 3:4-7 & untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 19-21