BEKERJA KARENA ANUGERAH
AMSAL 5–9
Allah menciptakan kita untuk bekerja, dan Dia memberikan penyertaan, janji, serta kasih karunia-Nya agar kita dapat bekerja dengan tekun dan setia.
Sejak semula, Allah merancang manusia untuk bekerja, bahkan memanggil kita kepada pekerjaan. Kerja bukanlah akibat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Bahkan sebelum dosa masuk ke dunia, Adam dan Hawa telah menerima tugas dari Allah untuk mengelola taman Eden. Memang, karena dosa, pekerjaan menjadi berat, tetapi bekerja sendiri selalu merupakan rancangan Allah yang baik bagi manusia. Dengan cara inilah Allah memelihara, menjaga, dan mengembangkan ciptaan-Nya melalui manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya. Karena itu, orang yang bekerja dengan rajin biasanya menikmati hasil dari jerih lelahnya.
Dalam Amsal 6, Tuhan mengajarkan hikmat kepada kita: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" -- maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” (Ams. 6:6–11).
Mengapa Allah memakai semut sebagai contoh? Karena semut bekerja tanpa harus terus-menerus diawasi atau dipaksa. Semut memahami pentingnya mempersiapkan masa depan dan disiplin. Jika semut saja dapat bekerja dengan setia tanpa harus didorong, terlebih lagi kita yang telah dipanggil Allah untuk mengelola dan merawat ciptaan-Nya.
Namun, sebagai manusia berdosa, kita tidak secara alami mencintai pekerjaan. Hati kita lebih cenderung mencari jalan yang mudah dan melakukan sesedikit mungkin. Karena itu, jika kita ingin mengasihi pekerjaan dan melakukannya dengan disiplin serta setia, kita membutuhkan pertolongan Allah dan anugerah-Nya.
Kabar baik Injil adalah bahwa Allah tidak hanya memberi perintah, tetapi juga memberikan anugerah. Anugerah-Nya sanggup mengubah hati yang malas menjadi hati yang bekerja dengan sukacita bagi Tuhan. Pekerjaan bukan lagi sekadar mencari nafkah atau mengejar prestasi, melainkan menjadi bentuk ibadah sebagai respons atas kasih karunia Kristus.
Hari ini, mintalah anugerah Tuhan agar hati kita diperbarui. Kasih karunia Allah sanggup mengubah orang yang malas menjadi orang yang bekerja dengan sukacita bagi Tuhan. Kasih karunia-Nya memberi kekuatan ketika kita lelah, ketekunan ketika kita ingin menyerah, dan motivasi yang benar ketika pekerjaan terasa berat.
Refleksi
Bacalah 2 Tesalonika 3:6–12 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 5-9