KESOMBONGAN HATI
2 TAWARIKH 1–4
Kesombongan adalah tanah tempat segala dosa berakar dan bertumbuh.
Kesombongan adalah musuh bagi setiap manusia. Ia bagaikan penyakit paling mematikan, sebuah wabah rohani yang menjangkiti dan merusak semua orang, kecuali jika Tuhan sendiri campur tangan. Kesombongan membuat kita hidup seolah-olah tidak membutuhkan Tuhan. Setiap hari, kesombongan menjadi peperangan rohani yang nyata dalam diri kita.
Kesombongan membuat kita terlalu mudah tersinggung dan membela diri. Ia mengubah hubungan yang seharusnya dipenuhi kasih menjadi penuh pertentangan. Ia membuat kita mudah membenarkan dosa sendiri, tetapi sangat cepat menghakimi dosa orang lain. Kesombongan mendorong kita untuk menolak otoritas, namun di saat yang sama kita ingin memiliki kuasa dan kendali yang besar. Kesombongan memenuhi hati kita dengan kepahitan dan iri hati.
Kesombongan membuat kita ingin selalu di depan, dan merasa gelisah ketika harus menunggu. Kita jadi mudah tersinggung saat orang tidak sependapat, dan merasa bahwa pemikiran kitalah yang paling benar. Bahkan dalam kehidupan rohani, kesombongan bisa menyamar dengan sangat halus. Kita mungkin terlihat religius, tetapi sebenarnya yang kita sembah adalah diri sendiri. Pada dasarnya, kesombongan adalah usaha manusia untuk merebut kemuliaan yang hanya layak dimiliki Allah.
Kesombonganlah yang menjadi awal kejatuhan manusia di taman Eden, dan sejak itu menjadi akar dari setiap kejatuhan. Dan sejak saat itu dosa terus menguasai hati manusia. Namun puji Tuhan, Injil memberi kabar baik bagi orang berdosa. Hanya ada satu jawaban bagi penyakit kesombongan manusia yaitu anugerah Allah. Hanya kasih anugerah Allah yang sanggup membuka mata, menyelamatkan, mengampuni, dan mengubahkan hati kita. Hanya anugerah Allah yang dapat melepaskan kita dari pusat diri sendiri dan membawa kita kembali hidup bagi kemuliaan-Nya.
Melalui Injil, kita belajar menangisi dosa kita dan berseru memohon belas kasihan Tuhan. Anugerah membuat hati yang sombong menjadi rendah hati. Anugerah membebaskan kita dari perbudakan “kerajaan diri sendiri.” Tanpa anugerah, kita akan terus berusaha membuktikan diri dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi pada akhirnya, kesombongan selalu membawa kehancuran.
Pada dasarnya, kesombongan adalah keinginan untuk memiliki pujian, kemuliaan, kuasa, dan kendali yang seharusnya hanya menjadi milik Allah. Karena itu, kerendahan hati sejati bukan sekadar bersikap lembut di luar. Kerendahan hati adalah pengakuan bahwa segala kuasa, kemuliaan, hikmat, dan kendali adalah milik Tuhan semata. Firman Tuhan berkata dalam 2 Tawarikh 1:1: “Salomo, anak Daud, menjadi kuat dalam kedudukannya sebagai raja; TUHAN, Allahnya, menyertai dia dan menjadikan kekuasaannya luar biasa besarnya.”
Salomo bukan pusat dari kisah itu. Ia bukan tokoh utama yang patut menjadi fokus kekaguman kita. Semua yang ia miliki dan capai berasal dari Pribadi yang jauh lebih besar darinya. Kemuliaan adalah milik Tuhan, Dia yang memilih Salomo dan dengan kuasa-Nya menjadikannya besar. Salomo menjadi besar bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena Tuhan menyertainya.
Kiranya hal ini juga nyata dalam hidup kita: bahwa setiap kebaikan dan keberhasilan berasal dari Tuhan. Kerendahan hati lahir ketika kita mengakui bahwa di balik setiap kebesaran manusia ada kebesaran Kristus yang tidak terukur. Injil mengingatkan bahwa kita bukan penyelamat hidup kita sendiri. Yesus Kristuslah Raja yang sejati. Ia merendahkan diri-Nya sampai mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia yang sombong dan berdosa. Karena itu, hidup orang percaya bukanlah tentang meninggikan diri, tetapi meninggikan Kristus. Semakin kita melihat kemuliaan Yesus, semakin kita sadar bahwa semua kemuliaan hanyalah milik-Nya.
Refleksi
Bacalah 1 Petrus 5:5–11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 1-4